CEO Nvidia, Jensen Huang, memicu perdebatan luas setelah melontarkan pernyataan berani, bahwa generasi berikutnya dari jutawan dan miliarder Amerika Serikat (AS) tidak akan lahir dari Silicon Valley atau Wall Street, melainkan dari kalangan pekerja terampil, khususnya teknisi listrik (electrician) dan teknisi pipa (plumber).
Pernyataan Huang menyoroti pergeseran mendasar dalam lanskap ekonomi Amerika Serikat (AS), yang didorong oleh lonjakan kebutuhan talenta khusus di tengah ledakan pembangunan infrastruktur dan krisis kekurangan tenaga kerja terampil, khususnya di bidang kelistrikan dan perpipaan.
Huang menjelaskan visinya dengan tegas, “Masa depan adalah milik para pembangun.” Ia menekankan bahwa profesi di bidang seperti perpipaan dan kelistrikan berada di jalur pertumbuhan besar-besaran. Menurutnya, dibutuhkan ratusan ribu tenaga terampil untuk membangun pabrik dan pusat data (data center) yang menjadi tulang punggung revolusi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kondisi ekonomi saat ini, dengan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur fisik dan menurunnya jumlah lulusan sekolah kejuruan, menciptakan situasi ideal bagi profesi-profesi esensial tersebut.
Pandangan CEO Nvidia ini ternyata tidak berjalan sendirian. Sejumlah pemimpin bisnis ternama juga menyuarakan kekhawatiran serupa terkait kurangnya tenaga kerja terampil.
CEO BlackRock, Larry Fink, misalnya, telah memperingatkan bahwa AS menghadapi defisit serius tenaga listrik yang dibutuhkan untuk membangun banyak pusat data untuk AI. Ia bahkan telah mengingatkan para pemangku kebijakan tentang potensi keterlambatan proyek-proyek strategis.
Hal senada diungkapkan CEO Ford, Jim Farley, yang menyoroti minimnya tenaga terlatih untuk mendukung pemulangan kembali industri manufaktur ke dalam negeri (AS). Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ambisi nasional dan kesiapan talenta / sumber daya manusia.
Pernyataan Huang juga mengisyaratkan perlunya evaluasi ulang terhadap prioritas pendidikan. Ia menyebutkan bahwa jika dirinya berusia 20 tahun saat ini, ia mungkin akan memilih ilmu berbasis matematika dan fisika dibandingkan ilmu perangkat lunak. Pandangannya itu mencerminkan pergeseran persepsi tentang nilai dan peluang karier di masa depan.
Sentimen tersebut sejalan dengan semakin banyaknya generasi muda Amerika yang mempertanyakan imbal hasil dari biaya kuliah yang mahal, terutama jika dibandingkan dengan potensi penghasilan yang tinggi dan kepuasan kerja yang ditawarkan oleh profesi di bidang keahlian teknis.
Pesan yang disampaikan Huang sangat jelas dan kuat. Di era aplikasi AI yang semakin masif, keterampilan yang tidak dapat digantikan oleh mesin, seperti kemampuan membangun, memperbaiki dan merawat infrastruktur fisik akan menjadi semakin bernilai tinggi.
AI mungkin memang mampu menulis kode pemrograman, tetapi ia belum bisa memperbaiki pipa bocor atau memasang sistem kelistrikan yang kompleks di sebuah pusat data.
Hal itulah yang menempatkan teknisi listrik dan teknisi pipa sebagai pemain penting tak terduga dari kemakmuran ekonomi di masa depan. Tentunya para sarjana atau insinyur listrik / elektro / mesin juga termasuk di dalamnya yang berpeluang besar untuk mengisi kesempatan emas ini.
Jika memang demikian, maka para mahasiswa di bidang kelistrikan / teknik elektro khususnya, persiapkanlah diri kalian untuk menyambut ledakan kebutuhan akan tenaga ahli di bidang ini. Lengkapi diri kalian juga dengan softskill berupa kemampuan critical thinking, complex problem solving dan creativity untuk mengimbangi kemampuan hard skill kalian.
Referensi:
FB TechTimes
https://www.facebook.com/100084772417379/posts/pfbid02VSeWyD2juKaZmgC6JEZ3QfYpnmW11omwRGE42EP186n93HYqc1njxt8VcXbJqxipl/
Tinggalkan Komentar