Info Prodi
Sabtu, 02 Mei 2026
  • 2 dari 8 Alasan Anak SMK & MAK Perlu Lanjut Kuliah di Prodi Teknik Elektro ITI: 1) Nggak perlu hebat dulu untuk bisa kuliah di sini, 2) Biaya kuliah bisa nyicil per bulan (bunga 0%).
16 Oktober 2025

Kisah Sukses Mira Murati bersama OpenAI

Kamis, 16 Oktober 2025 Kategori : Kisah Sukses

Mira Murati berada di balik salah satu lompatan teknologi paling radikal abad ini. Sebagai mantan Chief Technology Officer (CTO) OpenAI, perempuan kelahiran Albania itu mengawasi kelahiran ChatGPT, DALL-E, Codex dan Sora yang menggetarkan jagat teknologi.

Namun yang menarik bukanlah hype mengenainya, melainkan kesunyiannya. Di balik terobosan yang mengguncang dunia, Mira justru berbicara tentang kesederhanaan, kolaborasi dan tanggung jawab dengan nada yang hampir filosofis.

Dalam sebuah wawancara dengan Time, ia menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) harus dikembangkan dengan kehati-hatian ekstrem, mengingatkan bahwa teknologi ini bisa “menjadi terlalu kuat dan berbahaya.” Di panggung yang dipenuhi ego dan hiperbola, suaranya bagaikan aliran air jernih di tengah badai pasir.

Latar belakang Mira sebagai insinyur mekanik yang pernah berkarya di Tesla justru membentuk perspektif uniknya. Ia tidak melihat AI sebagai dewa digital atau monster mesin, melainkan sebagai alat. Dan sebuah alat yang perkasa, tetaplah alat.

Visinya tentang masa depan tidak diisi dengan utopia, tetapi dengan panggilan untuk regulasi dan tata kelola yang kolaboratif. Dalam dunia yang terobsesi dengan kecepatan disrupsi, ia justru menekankan integrasi yang bertanggung jawab. Ia adalah arsitek di balik revolusi, yang justru mengajak semua orang untuk menarik napas sejenak dan berpikir panjang.

Filsuf Tiongkok kuno, Lao Tzu, dalam tulisannya Tao Te Ching, menulis, “Dia yang mengetahui tidak berbicara; dia yang berbicara tidak mengetahui.” Murati tampaknya menghidupi paradoks kuno ini. Ia mendorong kemajuan dengan kecepatan luar biasa, namun dengan sikap rendah hati seorang penjaga.

Hal ini mengingatkan pada ajaran Ryan Holiday dalam Stillness is the Key, di mana ia berargumen bahwa kekuatan sejati bukanlah dalam aksi yang gegap gempita, tetapi dalam ketenangan yang disengaja. Di puncak hiruk-pikuk Silicon Valley, Murati memilih untuk tidak menjadi bintang teknologi, melainkan seorang insinyur yang tenang yang memahami beratnya tanggung jawab yang dipikulnya.

Karirnya adalah sanggahan terhadap mitos jenius penyendiri. Keberhasilan OpenAI dalam meluncurkan ChatGPT bukanlah hasil dari satu orang visioner, tetapi buah dari kolaborasi tim yang intens. Pendekatannya yang terintegrasi dengan cara menjembatani kesenjangan antara teknik, penelitian dan keselamatan, mencerminkan kebijaksanaan dari buku The Catalyst karya Jonah Berger.

Berger menulis bahwa untuk mendorong perubahan yang berarti, seseorang tidak boleh menjadi penghalang yang, melainkan menjadi katalis yang menghilangkan rintangan. Murati tidak mendikte masa depan; ia dengan cermat membersihkan jalan untuk masa depan itu agar muncul dengan lebih aman.

Namun, kesuksesannya dibayangi oleh kesadaran akan bahaya. Seperti Prometheus yang membawa api kepada umat manusia, ia tahu hadiahnya bisa menghangatkan atau membakar. Refleksinya tentang masa depan AI tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari kewaspadaan yang mendalam.

Hal itu adalah tema yang bergema dalam buku karya Atul Gawande, The Checklist Manifesto. Terkadang, inovasi yang paling kompleks membutuhkan pengaman yang paling sederhana, seperti daftar periksa, transparansi dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak tahu segala sesuatu.

Warisan Mira Murati mungkin tidak diukur dari seberapa cerdas mesin yang ia bantu ciptakan, tetapi dari seberapa bijaksana manusia dalam mengelolanya. Di dunia yang saat ini terobsesi dengan AI, ia justru mengangkat nilai kemanusiaan yang paling mendalam.

Seperti yang ditulis Simon Sinek dalam bukunya Leaders Eat Last, kepemimpinan sejati adalah tentang menciptakan lingkaran keamanan bagi orang lain untuk berkembang. Di garis depan revolusi digital, Murati bukan hanya membangun kecerdasan, ia dengan hening merajut pula kebijaksanaan.

Setahun sebelum keluar dari OpenAI, Mira Murati tercatat di peringkat ke-57 dalam daftar bergengsi “100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia Bisnis” versi Fortune pada Oktober 2023.

Dan pada Februari 2025, ia memperkenalkan Thinking Machines Lab, sebuah korporasi nirlaba yang ia bangun dengan tujuan membantu masyarakat memahami, menyesuaikan dan mengembangkan kemampuan kecerdasan buatan (AI) dengan lebih luas.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar