Beberapa tahun lalu, Mark Zuckerberg berdiri di panggung dengan penuh keyakinan. Ia membayangkan sebuah dunia baru: ruang digital tempat manusia bekerja, bermain, dan berinteraksi seolah-olah berada di dimensi lain. Dunia itu ia sebut metaverse dan Meta perusahaan milikya, akan menjadi pionir yang membuka gerbangnya.
Namun, perjalanan menuju mimpi itu ternyata jauh lebih terjal daripada yang dibayangkan. Hingga kini, Divisi Reality Labs unit yang mengembangkan teknologi virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) Meta telah menelan kerugian hampir 1.100 triliun rupiah atau $68,6 miliar sejak berdiri.
Angka fantastis yang membuat para pengamat tertegun, terutama karena tingkat adopsi oleh masyarakat masih minim, yaitu hanya sekitar 17 persen orang dewasa di Amerika yang menggunakan headset VR sepanjang tahun 2023.
Di tengah tekanan itu, Meta tidak menghentikan langkah. Justru, mereka terus menggelontorkan dana demi keyakinan bahwa teknologi imersif akan menjadi babak baru dalam sejarah komputasi. Namun strategi mereka mulai bergeser.
Beberapa bulan terakhir, Meta dikabarkan mengecilkan skala laboratorium riset kecerdasan buatannya (Meta Superintelligence Labs), sekaligus membuka kemungkinan menggandeng model AI pihak ketiga. Keputusan ini lebih merupakan penyesuaian strategi, yakni upaya memangkas biaya tanpa benar-benar melepas ambisi besar mereka di ranah kecerdasan buatan.
Andrew Bosworth, Chief Technology Officer Meta, memberi sinyal bahwa fokus berikutnya bukan pada perangkat headset baru, melainkan pada perpaduan AI dengan perangkat wearable. “AI plus wearables” dan “AI plus metaverse” menjadi kata kunci yang ia lontarkan. Sebuah petunjuk bahwa Meta tengah mencari jalan lain untuk mendekatkan visi besar mereka kepada pengguna, meski itu berarti menunda gebrakan dalam bidang hardware.
Namun, di luar gedung-gedung kaca Silicon Valley, skeptisisme tetap kuat. Para kritikus mempertanyakan: sampai kapan Meta bisa menanggung kerugian sebesar itu? Apakah metaverse benar-benar akan menjadi masa depan, atau hanya mimpi yang terlalu jauh dari kebutuhan nyata masyarakat?
Zuckerberg sendiri tetap teguh. Ia menyebut tahun 2025 sebagai momen krusial bagi metaverse. Tahun di mana menurutnya, teknologi ini akan menunjukkan lompatan besar dan mampu menarik lebih banyak orang masuk ke dalamnya. Keyakinan itu menjadi bahan bakar utama Meta di tengah badai keraguan.
Kini, perjalanan Meta seperti sebuah pertaruhan besar. Di satu sisi, ada visi futuristik tentang dunia digital yang menyatukan realitas dan imajinasi. Di sisi lain, ada tekanan finansial, persaingan dari raksasa teknologi lain, dan pertanyaan mendasar tentang apakah masyarakat benar-benar menginginkan hidup di alam metaverse.
Tinggalkan Komentar