Laporan hasil PISA 2025 (Volume I: Future-Ready Students) yang dikeluarkan OECD pada 8 September 2026 lalu, diikuti oleh 91 negara dan wilayah ekonomi. PISA (Programme for International Student Assessment) 2025 dilakukan dengan sampling 760.000 siswa sekolah berusia 15 tahun yang mewakili 33 juta siswa di negara OECD (Organisation for Economic Co‑operation and Development).
Berikut adalah kategori utama hasil PISA 2025, negara-negara teratas, serta statistik dan posisi Indonesia dalam laporan PISA 2025 tersebut.
Kategori Utama PISA 2025 & Negara Teratas
PISA 2025 menilai empat (4) kategori kompetensi utama:
A. Sains (Science):
B. Matematika (Mathematics):
C. Membaca (Reading):
D. Pemecahan Masalah Komputasional (Computational Problem Solving):
Baca juga: Laporan PISA 2025 dari OECD dan Tantangan Pendidikan Indonesia
Sistem Pendidikan 10 Besar Teratas secara Keseluruhan
Laporan PISA 2025 mencatat bahwa 8 sistem pendidikan berikut berhasil masuk dalam 10 besar (top 10) di ketiga domain utama tersebut (Sains, Matematika, dan Membaca):
Catatan: Cuplikan tabel dalam laporan tidak memuat daftar 10 negara lengkap beserta nilai pasti posisi 3–10 untuk setiap domain, melainkan menyebutkan kelompok negara 10 besar utama serta skor posisi teratas.
Nilai dan Statistik Indonesia dalam PISA 2025
> Nilai Rata-rata Indonesia per Domain:
> Perubahan Skor PISA Indonesia (2022 ke 2025):
Peringkat Indonesia Bagaimana?
Angka peringkat posisi tunggal Indonesia (misalnya posisi ke-X dari 91 negara) tidak dituliskan secara eksplisit dalam laporan PISA 2025. Laporan menyajikan data dalam bentuk grafik sebaran dan tabel indikator tematik.
Statistik Unik Indonesia di PISA 2025
Berikut beberapa hal unik mengenai Indonesia dalam laporan tersebut:
– Lonjakan Upaya Belajar: Bersama Malaysia, Indonesia mencatat peningkatan terbesar di dunia sejak 2022 dalam proporsi siswa yang mengerahkan upaya ekstra saat menghadapi tugas sekolah yang sulit.
– Rasa Ingin Tahu (Curiosity): Indonesia menempati posisi puncak global dalam persentase siswa yang merasa lebih penasaran/ingin tahu dibandingkan orang-orang di sekitarnya.
– Komitmen Lingkungan: 94,5% siswa Indonesia bercita-cita berkontribusi melindungi lingkungan melalui pekerjaan masa depan mereka (salah satu tertinggi di dunia, jauh di atas rata-rata OECD 62%). Lebih dari 90% siswa aktif dalam kegiatan lingkungan dan Indonesia mencatat tingkat paparan diskusi lingkungan di kelas tertinggi di dunia.
– Peningkatan Dukungan Guru: Indonesia mengalami salah satu peningkatan terbesar di dunia sejak 2015 dalam hal tingkat dukungan guru yang dirasakan oleh siswa di kelas.
– Pemanfaatan AI: 49,4% siswa Indonesia menggunakan chatbot AI setidaknya seminggu sekali untuk membantu belajar, dan 87,4% siswa melaporkan belajar menilai kredibilitas informasi buatan AI dalam pelajaran sekolah.
Perbandingan Skor Indonesia dengan Negara Asia Tenggara Lainnya
Berikut adalah perbandingan hasil PISA 2025 Indonesia dengan 7 negara tetangga di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) yang berpartisipasi:
Tabel Perbandingan Skor PISA 2025 di 8 Negara Asia Tenggara
|
Negara |
Sains (Science) | Membaca (Reading) | Matematika (Mathematics) | Pemecahan Masalah Komputasional |
|
Singapura |
560 | 535 | 563 | 563 |
|
Vietnam |
457 | 392 | 443 |
461 |
|
Brunei Darussalam |
439 | 426 | 435′ |
496 |
|
Thailand |
432 | 392 | 407 |
476 |
|
Malaysia |
419 | 393 | 397 |
484 |
|
Indonesia |
389 | 365 | 364 |
427 |
| Kamboja | 382 | 347 | 366 |
Tidak diukur (Ujian Kertas) |
| Filipina | 373 | 367 | 371 |
434 |
Analisis Posisi Indonesia di Kawasan ASEAN
Berdasarkan tabel perbandingan di atas, terlihat bahwa untuk domain-domain berikut ini:
FAQ (Frequently Asked Questions) Berdasarkan Laporan PISA 2025 (Volume I)
PISA 2025 mencatat rata-rata skor OECD terendah yang pernah ada di ketiga domain utama: Sains, Membaca, dan Matematika.
Skor membaca terus menurun sejak mencapai puncaknya pada 2012, sains menurun secara bertahap dalam satu dekade terakhir, dan matematika mengalami penurunan paling tajam setelah 2018.
Di sisi lain, B-S-J-Z (China) dan Singapura menjadi sistem pendidikan dengan kinerja tertinggi di dunia di ketiga domain tersebut.
Dampaknya sangat bergantung pada tujuan dan durasi penggunaan.
Penggunaan yang moderat untuk belajar berhubungan dengan skor sains yang lebih tinggi dibandingkan tidak menggunakan sama sekali atau penggunaan yang sangat tinggi.
Penggunaan untuk hiburan (leisure) di sekolah melebihi 1 jam per hari secara konsisten berhubungan dengan penurunan skor akademik.
Kebijakan sekolah seperti larangan ponsel atau panduan penggunaan perangkat terbukti efektif mengurangi tingkat gangguan (distraction) siswa di kelas.
Penurunan kemampuan membaca dipicu oleh melemahnya keterampilan membaca kritis, seperti kemampuan mengevaluasi informasi dan menghubungkannya dengan berbagai sumber.
Pergeseran ke kebiasaan membaca digital yang terfragmentasi (seperti memindai feed media sosial) turut mengikis kemampuan siswa dalam memahami teks yang kompleks.
Hal ini memicu lonjakan fenomena hasty readers, yaitu siswa yang membaca teks secara terburu-buru dan memberikan jawaban cepat namun salah, yang jumlahnya meningkat hampir dua kali lipat antara tahun 2018 dan 2025.
Hubungan antara AI dan kinerja akademik cukup kompleks.
Secara umum, siswa yang tidak menggunakan AI chatbot untuk tugas-tugas spesifik (seperti merangkum teks atau membuat draf tulisan) memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan mereka yang sering menggunakannya.
Namun, ketika penggunaan AI dipadukan dengan pembelajaran literasi AI di sekolah (siswa diajarkan cara menilai kredibilitas dan kualitas informasi buatan AI), siswa mencatatkan kinerja yang sedikit lebih tinggi.
Tidak. Kekayaan nasional hanya menjelaskan sekitar separuh dari variasi kinerja antar negara. Kebijakan yang tepat dan alokasi anggaran yang bijak jauh lebih menentukan daripada sekadar besarnya biaya yang dikeluarkan per siswa.
Sebagai contoh, Luksemburg merupakan negara dengan pengeluaran pendidikan per siswa tertinggi di dunia (USD 288.521), namun skor rata-rata sainsnya lebih rendah dibandingkan negara-negara seperti Irlandia, Prancis, dan Italia yang menginvestasikan kurang dari setengah jumlah tersebut.
Referensi:
Tulisan ini disadur secara bebas dengan bantuan AI dari referensi berikut ini:
[1] OECD (2026), PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students, PISA, OECD Publishing, Paris, https://doi.org/10.1787/73451bc5-en.
📅 Last updated:
Tinggalkan Komentar