Ketika Salesforce meluncurkan platform Agentforce pada Oktober 2024, banyak pelaku bisnis menaruh harapan besar. Ia tampaknya bukan sekadar platform digital biasa.
Agentforce dipandang sebagai tonggak penting dalam perjalanan dunia usaha menuju era di mana kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mendukung, tetapi juga mengambil peran aktif dalam menjalankan berbagai fungsi inti. Mulai dari penjualan, layanan pelanggan hingga pemasaran dan perdagangan.
Ia ibarat sebuah tim virtual yang tak pernah lelah, mampu mengeksekusi tugas dengan presisi dan hadir untuk membantu kapan saja. Itulah janji yang dibawa Agentforce kepada perusahaan di seluruh dunia.
Namun, kehebatan platform ini tidak berdiri sendiri. Sejak September 2024, Salesforce membentuk Agentforce Partner Network, sebuah ekosistem global yang kini melibatkan lebih dari 200 mitra besar, termasuk Google Cloud, Docusign, hingga Box. Lewat jejaring inilah perusahaan dari berbagai sektor bisa membangun agen-agen AI yang sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka, mempercepat inovasi sekaligus mendorong efisiensi kerja.
Transformasi ini kian nyata ketika pada Maret 2025, Salesforce menghadirkan Agentforce 2dx. Versi terbaru ini tidak hanya menambahkan fitur, tetapi benar-benar merubah cara perusahaan mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja mereka.
Dengan Agent Builder yang dilengkapi asisten AI, tim bisnis dapat lebih mudah mengatur peran, tindakan hingga instruksi untuk agen virtual mereka. Sementara Testing Center memungkinkan pengujian skala besar sebelum agen-agen itu diterapkan secara penuh, layaknya ruang uji coba sebelum mesin dilepas ke jalur produksi.
Dampak nyata Agentforce juga tercermin pada kinerja keuangan Salesforce. Pada Mei 2025, perusahaan menaikkan target pendapatan dan keuntungan untuk tahun fiskal 2026. Alasan utamanya jelas, yakni meningkatnya kepercayaan pelanggan terhadap layanan cloud dan melonjaknya penggunaan platform AI ini. Lebih dari 8.000 kesepakatan bisnis telah berhasil diselesaikan melalui Agentforce, dengan pendapatan tahunan dari produk Data Cloud dan AI yang menembus 1 miliar dolar AS.
Ambisi Salesforce bahkan melampaui pasar tradisionalnya. Pada Februari 2025, perusahaan mengumumkan investasi 500 juta dolar AS di Arab Saudi untuk mendorong proyek-proyek AI, termasuk memperluas layanan Hyperforce dan membangun kolaborasi baru melalui Agentforce bersama Capgemini, Deloitte, Globant, IBM hingga PwC. Langkah ini menunjukkan tekad Salesforce untuk menempatkan AI sebagai fondasi masa depan bisnis global.
Cerita Agentforce ini bukan hanya tentang teknologi canggih. Namun juga tentang bagaimana perusahaan besar maupun kecil diberi kesempatan untuk bekerja lebih cerdas, bukan hanya lebih keras. Tentang bagaimana manusia bisa berfokus pada kreativitas dan strategi, sementara agen-agen AI menangani detail yang melelahkan.
Marc Benioff, CEO sekaligus co-founder Salesforce menyebut Agentforce sebagai “global digital labor platform“. Ia menyebut dirinya berada di dalam barisan para CEO generasi terakhir yang mengelola tenaga kerja berupa manusia seluruhnya, sebelum kemunculan AI khususnya LLM (Large Language Model) yang membuat tenaga kerja hibrid antara manusia dengan mesin terwujud[1].
Dengan strategi jangka panjang, jaringan mitra yang kuat dan inovasi tanpa henti, Salesforce melalui Agentforce tampaknya sedang menulis ulang aturan permainan bisnis modern. Sebuah kisah tentang masa depan yang mulai hadir hari ini.
Referensi:
[1] Martin Kihn. Agentforce Harnessing the Agency of AI to Scale, Grow, and Lead Any Industry. John Wiley & Sons, Inc. Hoboken, New Jersey. 2025
Tinggalkan Komentar