
Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah teknologi yang awalnya lahir untuk mendukung dunia kerja, justru berkembang menjadi bagian dari kehidupan pribadi jutaan orang. Itulah temuan dari sebuah studi / penelitian yang dilakukan OpenAI bersama ekonom Harvard, David J Deming, serta US National Bureau of Economic Research (Biro Riset Ekonomi Nasional Amerika Serikat).
Selama lebih dari setahun, mereka menganalisis 1,5 juta percakapan dengan ChatGPT, yaitu dari Mei 2024 hingga Juni 2025. Hasilnya mencengangkan: 70 persen interaksi ternyata bukan soal pekerjaan, melainkan urusan pribadi. Mulai dari mencari resep makan malam, menulis puisi sederhana hingga sekadar curhat. Tampaknya AI kini semakin sering hadir dalam ruang intim keseharian kita.
Dalam riset ini, para peneliti membagi pola penggunaan ChatGPT dalam tiga (3) kategori.
Pertama, “Asking / Bertanya”, yang mencakup hampir separuh (49%) dari semua percakapan. Inilah saat orang mencari jawaban, meminta pendapat atau sekadar butuh panduan, seolah berbicara dengan teman yang selalu siap memberi saran.
Kedua, “Doing / Melakukan”, yang mencakup 40 persen interaksi, seperti menulis email, menyusun rencana acara atau memperbaiki tulisan. Menariknya, bantuan menulis tetap menjadi tugas kerja yang paling dominan.
Ketiga, “Expressing / Mengekspresikan”, yaitu sekitar 11 persen, ini adalah ruang bagi orang untuk merenung, menulis kreatif atau bereksperimen dengan ide-ide personal.
Tren demografis juga tak kalah mencuri perhatian. Dalam setahun terakhir, kesenjangan gender hampir hilang. Jika di awal 2024 mayoritas pengguna adalah laki-laki, kini 52 persen pengguna memiliki nama yang diasosiasikan dengan perempuan.
Di sisi lain, negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah justru mencatat laju adopsi empat kali lebih cepat dibanding negara-negara kaya. Seolah ChatGPT menjadi jembatan baru yang menembus batas ekonomi dan geografi.
Namun mungkin yang paling mengejutkan adalah bagaimana ChatGPT menempati ruang-ruang kecil dalam hidup kita. Hanya 30 persen percakapan yang ternyata terkait dengan pekerjaan. Sedangkan sisanya, alias mayoritas, menyentuh ranah personal. AI kini tak lagi sekadar digunakan sebagai alat bantu profesional, melainkan telah hadir sebagai teman, penasihat bahkan rekan berkreasi.
Lebih dari itu, studi ini menyiratkan sesuatu yang lebih dalam, di mana kita sedang berada di persimpangan baru dalam hubungan manusia dan teknologi. ChatGPT bukan hanya mesin pintar di balik layar komputer, melainkan juga sebagai cermin bagi perubahan cara kita berpikir, berkomunikasi dan menjalani hari.
Referensi:
Aaron Chatterji, Thomas Cunningham, David J Deming, et al. How People Use ChatGPT. Unduh dari: https://www.nber.org/papers/w34255
📅 Last updated:
Tinggalkan Komentar