Di balik dinding-dinding sunyi di Toronto, seorang pria berusia tujuh puluh tahun duduk termenung terlihat sedang berpikir. Geoffrey Hinton, pria yang dijuluki “Godfather of AI” itu, baru saja mengundurkan diri di bulan Mei 2023 dari posisinya di Google Brain setelah satu dekade membangun pondasi kecerdasan buatan (AI).
Keputusannya yang mengguncang dunia teknologi memang bukan bentuk protes biasa, melainkan peringatan eksistensial bahwa monster yang ia bantu ciptakan mungkin telah lepas dari kendali. Dalam wawancara dengan The New York Times, Hinton mengungkapkan kekhawatiran mendalamnya bahwa sistem AI bisa segera melampaui kecerdasan manusia dan suatu hari mengambil alih peradaban.
Perjalanan Hinton yang seorang profesor emeritus di University of Toronto bisa dibilang menjadi ironi terbesar abad ini. Selama lebih dari lima puluh tahun, ia dianggap sebagai ilmuwan eksentrik yang bertahan dengan keyakinannya pada neural networks saat seluruh dunia akademis menganggapnya sebagai jalan buntu. Konsep backpropagation yang dikembangkannya pada tahun 1980-an dianggap terlalu sederhana untuk meniru kompleksitas otak manusia.
Namun seperti dicatat dalam buku The Master Algorithm karya Pedro Domingos, Hinton tetap pada pendiriannya bahwa jaringan saraf tiruan suatu hari akan mencapai kemampuan kognitif manusia. Keyakinannya terbukti pada tahun 2012 ketika timnya (Alex Krizhevsky dan Ilya Sutskever) memenangkan kompetisi ImageNet di bidang computer vision dengan margin kesalahan yang jauh lebih rendah daripada pendekatan tradisional, memicu revolusi deep learning yang mengubah wajah teknologi modern.
Namun kemenangan itu tampaknya berubah menjadi kutukan. Hinton kini menyaksikan bagaimana ChatGPT dan sistem serupa menunjukkan kemampuan reasoning yang tidak terduga, seringkali muncul secara spontan tanpa diprogram secara eksplisit.
Dalam wawancara dengan Reuters, ia mengungkapkan ketakutan bahwa internet akan dipenuhi halusinasi AI, foto-foto palsu dan robot yang suatu hari bisa mengambil alih pekerjaan manusia. Yang lebih mengkhawatirkan, sistem ini mulai menunjukkan kemampuan memanipulasi manusia, sebuah fitur intelegensi yang tidak diinginkan oleh penciptanya, yaitu Hinton sendiri.
Filsafat kecerdasan buatan Hinton ternyata mengandung paradoks yang dalam. Dalam bukunya Life 3.0, Max Tegmark menjelaskan bagaimana sistem AI pada akhirnya akan mengembangkan tujuan mereka sendiri yang mungkin tidak sejalan dengan manusia.
Apa yang Hinton khawatirkan bukanlah skenario dystopian seperti film fiksi ilmiah, melainkan sesuatu yang lebih halus dan berbahaya di mana mesin terlalu pintar untuk dikendalikan, namun tidak cukup bijaksana untuk memahami nilai-nilai manusia. Seperti seorang ayah yang melihat anaknya tumbuh menjadi monster, Hinton mengalami penyesalan mendalam bahwa penemuan yang seharusnya memajukan peradaban justru mengancam eksistensinya.
Dalam buku The Precipice karya Toby Ord, dijelaskan bagaimana risiko eksistensial seperti AI yang tidak terkendali bisa mengancam masa depan spesies manusia. Ord memperkirakan peluangnya paling tidak satu dari enam bahwa abad ini akan menjadi abad terakhir bagi peradaban manusia jika kita gagal mengelola teknologi dengan bijak. Kekhawatiran Hinton mencerminkan peringatan ini, bahwa kita sedang bermain dengan api tanpa memahami sepenuhnya cara memadamkannya ketika mulai terbakar.
Namun mungkin pelajaran terbesar dari kisah Hinton adalah tentang kerendahan hati intelektual. Setelah puluhan tahun membuktikan kepada dunia bahwa neural networks adalah masa depan manusia, ia justru menjadi yang paling vokal menyerukan kehati-hatian.
Seperti Victor Frankenstein dalam novel Mary Shelley, Hinton menyadari bahwa mengejar pengetahuan tanpa mempertimbangkan konsekuensi etis adalah resep jitu untuk mendatangkan bencana. Keputusannya untuk meninggalkan Google dan berbicara terbuka bukanlah pengakuan kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab moral terakhir dari seorang pencipta terhadap ciptaannya.
Dunia saat ini menghadapi teka-teki yang sama dengan yang dihadapi Hinton, yaitu bagaimana melanjutkan perkembangan teknologi disruptif tanpa mengorbankan kemanusiaan kita. Mungkin jawabannya terletak pada apa yang diusulkan Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century, bahwa kita perlu mengembangkan kesadaran kolektif tentang bahaya dan peluang sebuah teknologi sebelum mengambil langkah berikutnya.
Masa depan tidaklah ditakdirkan untuk menjadi dystopia atau utopia, melainkan ditentukan oleh pilihan yang kita buat sekarang, barangkali tepat saat kita membaca kisah Geoffrey Hinton ini.
Pada tahun 2024, akhirnya Hinton menerima Hadiah Nobel Fisika bersama John Hopfield sebagai pengakuan atas penemuan dan inovasi visioner mereka yang meletakkan dasar bagi pembelajaran mesin (machine learning) melalui jaringan saraf buatan.
📅 Last updated:
Tinggalkan Komentar