Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) dan Program Studi Teknik Elektro menggelar Forum Diskusi 2026 dengan tema “Dari Aspirasi Menuju Kurikulum Berkualitas” sebagai ajang sosialisasi kurikulum baru kepada mahasiswa pada hari Senin, 20 Juli 2026 lalu.
Forum ini menjadi ruang penjelasan sekaligus dialog terbuka mengenai arah pengembangan kurikulum yang mulai diterapkan pada tahun 2026, termasuk ketentuan masa transisi bagi mahasiswa angkatan sebelumnya.
Latar Belakang Pembaruan
Kurikulum Teknik Elektro dievaluasi secara berkala setiap lima tahun untuk memenuhi standar akreditasi sekaligus menyesuaikan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Penyusunan kurikulum baru dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan dosen, alumni, dan pihak industri sejak 2024 hingga 2025, untuk kemudian diterapkan pada tahun ajaran 2026.
Pembaruan ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Smart System, dan digitalisasi, serta tuntutan dunia industri yang terus berubah. Melalui pendekatan Outcome-Based Education (OBE), kurikulum baru diarahkan pada pengembangan talenta yang mengintegrasikan AI, Smart System, technopreneurship, dan inovasi teknologi berkelanjutan guna mendukung terwujudnya Smart Society Indonesia (SSI).

Struktur dan Perubahan Mata Kuliah
Kurikulum baru menetapkan beban studi minimum sebesar 145 SKS, dengan sebaran pada semester awal berkisar 19–20 SKS per semester. Kegiatan praktikum menjadi bagian wajib dengan total 11 mata kuliah praktikum untuk memperkuat keterkaitan antara teori dan praktik di laboratorium.
Beberapa penyesuaian penting yang diperkenalkan antara lain:

Ketentuan Masa Transisi
Bagi mahasiswa angkatan lama, pihak prodi menegaskan bahwa tidak dilakukan penyetaraan mata kuliah secara otomatis, dan kode mata kuliah tetap mengikuti kurikulum lama. Mata kuliah maupun praktikum yang telah dinyatakan lulus tidak perlu diulang, sedangkan yang belum lulus wajib diselesaikan sesuai ketentuan.
Untuk memastikan proses konversi dan pengambilan KRS berjalan tanpa kesalahan, mahasiswa diwajibkan berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing Akademik (PA) dalam menyusun rencana studi. Kampus juga akan menyediakan panduan, formulir, dan materi presentasi sebagai acuan selama masa transisi berlangsung. Sebagai catatan tambahan, batas maksimal nilai D yang diperbolehkan adalah 28 SKS.
Jalur Sertifikasi dan Peningkatan Kompetensi
Prodi menjelaskan bahwa sertifikasi kompetensi tidak diterbitkan langsung oleh kampus, melainkan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sesuai bidang yang dipilih mahasiswa. Beberapa program yang diperkenalkan mencakup Cisco Networking Academy (CCNA) dan Building Information Modeling (BIM).

Sertifikasi ini berada di luar kurikulum dan tidak diperhitungkan sebagai SKS, sehingga bersifat sebagai nilai tambah. Mahasiswa yang telah menyelesaikan pelatihan tertentu bahkan berpeluang mengikuti sertifikasi internasional dengan potongan biaya ujian bagi peserta yang memenuhi syarat.
Mahasiswa didorong untuk mulai melengkapi CV serta aktif mengikuti pelatihan, organisasi, forum, dan sertifikasi sejak dini. Selain kemampuan teknis, lulusan diharapkan memiliki etos kerja, disiplin, kemampuan komunikasi, kerja sama tim, serta kesiapan bekerja di bawah tekanan. Penguasaan bahasa Inggris hingga mampu berkomunikasi secara aktif, turut menjadi kompetensi yang ditekankan.
Penutup
Melalui Forum Diskusi 2026, Program Studi Teknik Elektro menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Dengan penguatan AI, smart systems, digital engineering, dan pendekatan OBE, lulusan diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berinovasi, bekerja secara profesional, dan bersaing di tingkat global.
(Ditulis oleh Farhan Ramadhan / Ketua HME 2026-2027)
📅 Last updated:
Tinggalkan Komentar