Sertifikasi Lulusan Insinyur Institut Teknologi Indonesia
14 Sep 2019

Wawancara Dr. Tris Dewi Indraswati, ST, MT dengan Media Online April 2019

Beritahu teman

>>>
Dosen Prodi Teknik Elektro Dr. Tris Dewi Indraswati, ST, MT yang juga Wakil Rektor Akademik ITI diwawancara dua media online Indopos.co.id dan Suara.com pada bulan April 2019 yang lalu. Berikut ini tulisan yang dimuat di website kedua media tersebut.

Indopos.co.id:

ITI Dongkrak Lulusan Insinyur dengan Sertifikasi Profesi

Institut Teknologi Indonesia (ITI) melakukan sertifikasi insinyur. Tak sekadar bagi kalangan mahasiswa di dalam kampus, sebaliknya sertifikasi terbuka bagi mahasiswa di luar kampus. “Melalui sertifikasi ini, kami mendukung upaya PII menambah lulusan insinyur,” ujar Tris Dewi Indraswati, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Kemahasiswaan Institut Teknologi Indonesia (ITI) di kawasan Serpong, Banten Senin (8/4/2019).

Sertifikasi ini merupakan kepanjangan dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bagi menambah lulusan insinyur di Indonesia yang belum ideal jumlahnya. Sebab, Tris Dewi mengatakan selama ini kebutuhan insinyur di Indonesia cukup minim. Padahal dilihat dari kebutuhan insinyur sejatinya Indonesia harus memiliki 80 ribu insinyur setiap tahunnya.
“Tetapi yang kita hasilkan belum sampai setengahnya. Sehingga kebutuhan insinyur sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Dalam pengembangan kompetensi SDM, khususnya insinyur, ada tiga kebijakan yang mendasari, yakni melalui Undang-Undang No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, Undang-Undang No 2/2017 tentang Jasa Konstruksi, dan Undang-Undang No 11/2014 tentang Keinsinyuran. “Negeri yang berkembang itu negeri yang memiliki banyak insinyur,” katanya. Penambahan ini, lanjut dia, sebagai salah jawaban pula atas revolusi 4.0. Sebab, jika kebutuhan insinyur tak mencukupi, tentunya ini akan berpengaruh bagi petumbuhan industri.

”Kita tak hanya melihat teorinya, tetapi melihat problem, bagaimana masalah dalam masyarakat ini,” katanya.
Dengan adanya sertifikasi ini, lanjut dia, lulusan yang dihasilkan akan memiliki karakter, integritas, intelektual, gigih dan tak mudah menyerah. ”Sehingga kita menghasilkan lulusan yang berpotensi,” bebernya.

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) ini lanjut dia memiliki program pembinaan profesi insinyur dengan tujuan sama. Oleh karena itu, perempuan yang bergelar doktor ini menilai harmonisasi sertifikasi perlu dilakukan berdasarkan sektor industri masing-masing, mulai dari industri kimia, permesinan, otomotif dan manufaktur lainnya.

(Sumber foto dan berita: https://indopos.co.id/read/2019/04/08/171002/iti-dongkrak-lulusan-insinyur-dengan-sertifikasi-profesi/)

Suara.com:

Profesi Insinyur Menurun di Era Milenial Bersaing dengan Pekerjaan Ini Lho

Profesi insinyur merupakan salah satu profesi penting yang akan selalu dibutuhkan bagi membangun dan mengembangkan negara. Sayangnya, di era milenial saat ini, minat terhadap profesi ini semakin berkurang. Banyak milenial yang lebih memilih profesi yang bergerak di bidang kreatif maupun digital.

Tris Dewi Indraswati, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Kemahasiswaan Institut Teknologi Indonesia (ITI) mengungkapkan ada beberapa alasan terkait hal ini.
“Sebenarnya bukan karena mereka tidak mau. Ada beberapa faktor, yang pertama ketidakmengertian bahwa ainsinyur diperlukan, kedua secara literasi masih sangat kurang. Dalam literasi keilmuan, lebih banyak pengetahuan populer yamg disebarkan,” ungkap dia saat ditemui di ITI beberapa waktu lalu.

Inilah, lanjut dia yang membuat jumlah insinyur di Indonesia cukup minim. Padahal dilihat dari kebutuhan, sejatinya Indonesia harus memiliki 80 ribu insinyur setiap tahunnya. Sementara yang dihasilkannya, kata dia belum setengahnya.
Untuk terus mengenalkan profesi insinyur pada generasi muda, khususnya milenial, ITI, kata Tris Dewi terus mengenalkan sains dan menyelenggarakan percepatan sertifikasi profesi insinyur.

“Program percepatan keinsinyuran ini merupakan upaya kami menelurkan insinyur-insinyur berkualitas. Jadi, setelah S1 lulus menjadi Sarjana Teknik, lalu mereka bekerja, terjun ke masyarakat, mereka dapat mengikuti sertifikasi insinyur ini,” jelas dia.

Sertifikasi ini juga bekerjasama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), yang tidak hanya dapat diikuti oleh mahasiswa yang berkuliah di ITI, tapi juga bagi lulusan teknik lainnya di seluruh Indonesia. Dengan adanya sertifikasi yang dapat diikuti, lanjut dia, lulusan yang dihasilkan selain memiliki sertifikat yang bermanfaat bagi kariernya, kemampuan dan ‘nilai tambah’ nya pun menjadi lebih tinggi di dunia kerja.

Diharapkan, kata Tris Dewi melalui sertifikasi ini, insinyur di Indonesia dapat memiliki sensitifitas yang tinggi saat melihat masalah di masyarakat, peka, memiliki semangat yang tinggi, gigih dan berkarakter bagi membangun negara ini.

“Negeri yang maju adalah negeri yang memiliki insinyur, dapat mengolah alam menjadi produk berharga. Kalau kita mau mengatasinya dengan pendidikan kita, menyadari bahwa dengan pengolahan, kita dapat menghasilkan sesuatu, kita memiliki nilai tambah yang jauh lebih besar daripada orang asing,” tutup dia. Sensitifitas yang tinggi dibutuhkan bagi profesi insinyur di zaman milenial ini.

(Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2019/04/14/150000/profesi-insinyur-menurun-di-era-milenial-bersaing-dengan-pekerjaan-ini-lho)

Tinggalkan Balasan