Quots Leadershipis Influence by John C. Maxwell
18 Okt 2021

Warisan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Bidang Sains dan Ilmu Pengetahuan & Teknologi – Maulid Nabi SAW 1443 H/2021 M

Beritahu teman

>>>
Dalam rangka maulid Nabi Muhammad SAW yang akan datang sebentar lagi, tulisan kali ini akan mengangkat tema seputar warisan nabi SAW dalam bidang sains dan ilmu pengetahuan & teknologi (iptek).

Sebagai seorang pemimpin multidimensi – mulai dari kepala negara hingga kepala rumah tangga – beliau tentu saja memiliki banyak atribut yang pantas dikagumi. Salah satu atribut yang melekat pada diri seorang pemimpin yang banyak disorot adalah mengenai legacy (warisan) yang ditinggalkannya.

Terkait persoalan warisan seorang pemimpin ini, Kouzes & Posner di dalam bukunya A Leader’s Legacy[1] mengatakan, “Warisan bukanlah hasil pikiran penuh harap. Warisan adalah hasil perbuatan tertentu. Warisan yang Anda tinggalkan adalah hidup yang Anda jalani. Kita memimpin hidup kita setiap hari. Kita meninggalkan warisan setiap hari. Orang yang Anda lihat, keputusan yang Anda buat, tindakan yang Anda ambil – itu semua berkisah tentang Anda. Hal itu semuanya adalah kumpulan segala hal berarti yang telah Anda lakukan [yang menjadi warisan Anda -ed], bukan peninggalan hebat pada akhir masa jabatan Anda.”

Selanjutnya Kouzes & Posner mengatakan, “Anda tidak pernah tahu hidup siapa saja yang akan tersentuh [akibat tindakan Anda -ed]. Anda tidak pernah tahu perubahan apa yang harus Anda mulai dan dampak apa yang bakal Anda peroleh. Anda tidak pernah tahu kapan saja waktu penting tiba. Yang Anda tahu adalah Anda bisa membuat perbedaan. Anda dapat meninggalkan dunia ini dengan lebih baik dibandingkan saat Anda menemukannya.”

Dari pernyataan Kouzes & Posner tersebut tampaknya warisan bukanlah mengenai persoalan harta, produk atau karya seseorang yang luar biasa yang diingat setelah seorang pemimpin tiada, namun lebih kepada berapa banyak kehidupan orang-orang yang tersentuh dengan ucapan, pikiran maupun tindakan seorang pemimpin, baik selama masa hidupnya maupun setelah meninggalnya. Warisan seorang pemimpin hidup dalam bentuk kisah-kisah yang diceritakan oleh mereka yang kehidupannya telah tersentuh oleh sang pemimpin, maupun oleh orang-orang yang hidup jauh setelah kematiannya.

Dengan sudut pandang ini maka kita akan melihat sejumlah warisan baginda Nabi Muhammad SAW terutama di bidang sains dan teknologi yang terus hidup bukan hanya di kalangan pemeluk ajarannya saja namun juga oleh pemeluk agama lainnya.

Baginda Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan, “Aku tinggalkan dua perkara yang dengan mengikuti keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, (keduanya) itu adalah Alquran dan sunnahku.” Nabi telah mengajarkan kepada banyak orang di jamannya (yakni para sahabat beliau yang jumlahnya ribuan) mengenai kandungan Alquran. Nabi juga secara langsung mengajarkan hal-hal yang belum didetailkan di dalam Alquran dalam bentuk sunahnya, baik berupa ucapan, tindakan maupun persetujuan terhadap tindakan para sahabatnya yang sesuai dengan apa yang telah beliau ajarkan.

Dalam konteks pengembangan sains dan ilmu pengetahuan & teknologi (iptek) ini, beliau mengajarkan sejumlah hal berikut[2]:

 

1. Menolak hal-hal yang irasional
Hal ini dapat ditelusuri dari ucapan beliau dalam hadis riwayat Muslim, “Siapa saja yang mendatangi paranormal/dukun, lalu mengikuti ucapannya maka salatnya ditolak selama 40 hari.”
Larangan ini berarti nabi SAW ingin agar umatnya menolak segala hal mistis, tahayul dan keyakinan yang tidak rasional untuk diikuti.

 

2. Memupuk rasionalitas
Salah satu ajaran Islam yang ditanamkan nabi SAW sejak dini adalah menolak menyembah berhala. Saat itu masyarakat Arab memang terbiasa menyembah berhala, bahkan ada berhala yang dibuat dari tepung, dimana setelah disembah lalu dimakan mereka. Padahal ini adalah sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat.

Ajaran menentang penyembahan berhala ini diajarkan beliau mengikuti apa yang tertulis di dalam kitab Alquran, “Bila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah.’ Mereka menjawab, ‘Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga walau nenek moyang mereka tidak tahu apa pun dan tak mendapat petunjuk?” (TQS. Al Baqarah: 170)

Rasionalitas, sikap kritis dan penentangan terhadap segala hal yang irasionalitas inilah yang nantinya berperan besar dalam pengembangan sains di tangan ilmuwan-ilmuwan muslim. Sains yang di masa Yunani sebelumnya dikatakan oleh Will Durant di dalam bukunya The Story of Civilization IV, “Dalam bidang ilmu kimia, bangsa Yunani mencukupkan diri dengan pengalaman di industri dan hipotesis yang kabur, namun ilmuwan muslim telah memperkenalkan penggunaan observasi yang cermat, eksperimen terkontrol dan pencatatan yang teliti.”

 

3. Dorongan melakukan eksperimen
Diceritakan dalam sebuah hadis bahwa nabi SAW melewati sahabatnya yang sedang melakukan penyerbukan pohon kurma dengan cara tertentu. Melihat itu baginda nabi SAW memberitahunya dengan suatu cara lain. Mendengar itu sang sahabat melakukannya sesuai saran nabi. Namun ternyata hasilnya tidak sebaik yang diharapkan. Ketika sang sahabat bertemu kembali dengan nabi SAW, ia melaporkan kejadian tersebut, maka nabi SAW menjawab, “Kalian lebih tahu urusan (teknis) dunia kalian.” (HR Muslim)

Dari sini para sahabat dan orang-orang setelahnya memahami bahwa dalam persoalan sains (seperti penyerbukan kurma tadi), mereka didorong untuk senantiasa bereksperimen dan berinovasi secara kreatif mencari cara-cara terbaik untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

 

4. Mengambil hikmah dari siapa saja dan di mana saja
Ada satu perkataan nabi SAW sebagai berikut, “Hikmah itu suatu yang hilang dari seorang mukmin. Di mana saja ia menemukan miliknya yang hilang itu, hendaklah ia mengambilnya.” (HR Tirmidzi)

Orang pertama yang melaksanakan ajaran ini tentu nabi SAW sendiri. Beliau pernah memberdayakan seorang dokter yang merupakan hadiah dari raja Mesir untuk dimanfaatkan keahliannya oleh masyarakat saat itu sebagai sarana pengobatan, padahal raja Mesir sendiri dan sang dokter bukanlah muslim.

Adapun para sahabat dan orang-orang setelahnya terdorong untuk mengembara dalam rangka belajar dan mengajar, dari siapa saja dan di mana saja. Mereka mengembara hingga negeri-negeri yang jauh seperti Cina dan Rusia.

 

Demikianlah sekilas ajaran nabi SAW yang menjadi warisan bagi umatnya. Dalam waktu tidak lebih dari tiga ratus tahun setelah wafatnya beliau, banyak bermunculan ilmuwan-ilmuwan yang telah berhasil melanjutkan sejarah sains dan iptek sebelumnya serta membangun sejumlah sains dan iptek dengan corak baru yang berasaskan rasionalitas dan eksperimen, seperti:

 

– Jabir Al-Hayan (721 – 815 M) yang membersihkan ilmu kimia dari mitos dan sihir.
– Muhammad Al-Khawarizmi (780 – 850 M) yang membangun ilmu aljabar dan algoritma perhitungan.
– Abu Raihan Al-Biruni (973 – 1050 M) yang telah memperkenalkan bentuk bumi yang bulat dan mendirikan ilmu teknik geodesi yang terpakai hingga hari ini.
– Abu Qasim Az-Zahrawi (936 – 1050 M) seorang dokter bedah, yang pertama kali memperkenalkan metode pengobatan berbasis bukti (evidence based medicine).
– Ibnu Sina (980 – 1037 M) yang membakukan metode Abu Qasim sebelumnya.

 

Nah, jika warisan seorang pemimpin akan hidup dalam kisah-kisah yang kita ceritakan secara turun temurun, kira-kira hal apakah yang kelak akan diceritakan oleh orang-orang atau anak cucu kita sebagai bentuk warisan kita?

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Setiap imam adalah pemimpin dan akan ditanyai mengenai tanggung jawabnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan akan ditanyai mengenai tanggung jawabnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan akan ditanyai mengenai tanggung jawabnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan ditanyai mengenai tanggung jawabnya.” (HR Bukhari)

 

Referensi:
[1] Kouzes, James M., Posner, Barry Z., A Leader’s Legacy Menjawab Tantangan Pemimpin Masa Depan. Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2006.
[2] Amhar, M Fahmi. “Warisan Metode Sains Ala Nabi.” Tabloid Media Umat, Edisi 299, Oktober 2021.

Tinggalkan Balasan