
Ketika banyak orang masih berdebat tentang apakah kecerdasan buatan (AI) akan menggantikan manusia, Thinking Machines Lab memilih jalan yang lebih berani dan manusiawi, yakni membangun jembatan antara manusia dan mesin.
Start up tersebut didirikan pada Februari 2025 oleh Mira Murati, mantan Chief Technology Officer OpenAI. Perusahaan ini segera menjadi sorotan di dunia teknologi. Dalam hitungan bulan, Thinking Machines Lab bukan hanya menarik perhatian publik, tetapi juga kepercayaan besar dari para raksasa industri.
Pada Juli 2025, Lab ini berhasil meraih pendanaan sebesar 2 miliar dolar Amerika yang dipimpin oleh Andreessen Horowitz, dengan dukungan dari nama-nama besar seperti Nvidia, Accel, ServiceNow, Cisco, AMD dan Jane Street. Nilainya pun langsung melonjak hingga 12 miliar dolar, menandai keyakinan pasar terhadap visi dan arah yang dibawanya.
Namun, angka-angka itu bukanlah pusat cerita sebenarnya. Sang pendiri memiliki pandangan yang lebih luas dan lebih personal tentang masa depan kecerdasan buatan. Ia percaya bahwa AI seharusnya tidak sekadar menjadi alat yang bekerja untuk manusia, melainkan mitra yang bekerja bersama manusia.
Baca juga: Kisah Sukses Mira Murati bersama OpenAI
Dalam salah satu pernyataannya, Murati mengatakan, “Kami sedang membangun AI multimodal yang bisa berinteraksi seperti manusia, antara lain lewat percakapan, penglihatan dan cara alami kita berkolaborasi setiap hari.”
Misi Thinking Machines Lab berakar pada ide sederhana namun ambisius, yaitu menciptakan sistem AI yang dapat dipahami, disesuaikan dan dikembangkan secara terbuka. Di tengah persaingan ketat industri AI, Lab ini mengambil langkah berbeda dengan menjadikan open science sebagai prinsip utama.
Perusahaan ini berencana membagikan kode, data dan spesifikasi modelnya agar para peneliti di seluruh dunia dapat berkontribusi untuk memastikan AI yang lebih aman, transparan serta selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Komitmen itu tercermin dalam tim yang dibentuknya. Hingga Oktober 2025, Thinking Machines Lab telah tumbuh menjadi komunitas berisi sekitar 50 orang. Mereka terdiri dari sosok ternama seperti John Schulman, salah satu pendiri OpenAI, yang kini menjabat sebagai Chief Scientist, serta Barret Zoph sebagai Chief Technology Officer. Kehadiran mereka, bersama para peneliti dan insinyur terbaik dari berbagai lembaga AI dunia, mempertegas reputasi Thinking Machines Lab sebagai wadah bagi inovasi yang berani dan bertanggung jawab.
Dengan pendanaan besar, kepemimpinan visioner serta semangat kolaboratif yang kuat, Thinking Machines Lab tampaknya siap menjadi pemain kunci dalam fase baru perkembangan AI. Dan dari laboratorium kecil yang dibangun di tahun 2025 itu, sebuah babak baru kolaborasi manusia dan kecerdasan buatan pun mulai ditulis.
📅 Last updated:
Tinggalkan Komentar