Metrologi-dan-Kesehatan
28 Okt 2019

Peran Metrologi dalam Peningkatan Mutu Kesehatan (Tulisan Juara 1 Lomba Essay Nasional LIPI)

Beritahu teman
>>>
Dalam dunia kesehatan kegiatan ukur-mengukur atau lebih sering dikenal dengan istilah metrologi merupakan kegiatan yang sangat penting. Namun di dalam dunia kesehatan, kesalahan hasil pengukuran dapat juga berakibat fatal jika berkaitan dengan masalah nyawa manusia. Kesalahan pengukuran oleh alat ukur yang digunakan dalam bidang kedokteran, misalnya, dapat mengakibatkan kesalahan pada kesimpulan diagnosis dan tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter. Kesalahan timbangan presisi untuk meramu obat dalam farmasi juga bisa berakibat kesalahan pemberian dosis obat kepada pasien. Maka dari itu diperlukan sekali kegiatan pengukuran yang akurat.

Dalam kegiatan medis, beberapa besaran fisik dari tubuh pasien seperti temperatur, tekanan darah, detak jantung, berat tubuh, kadar mineral-mineral dalam tubuh dan sebagainya, diperlukan oleh dokter untuk mendiagnosis penyakit yang diderita pasien. Penyakit demam berdarah pada seorang pasien, misalnya, dapat didiagnosis berdasarkan pada hasil pengukuran suhu tubuh dikombinasikan dengan pengukuran kadar hemoglobin darah pasien. Penyakit jantung dapat dideteksi dari hasil pengukuran tekanan darah pasien. Sedang untuk keperluan pengobatan, pemberian obat dosisnya disesuaikan dengan berat tubuh pasien.

Jadi sudah terlihat dengan jelas bahwasanya kegiatan pengukuran atau peranan metrologi dalam peningkatan mutu kesehatan sangat diperlukan sekali. Dikarenakan apabila dalam kegiatan medis tidak adanya suatu perlakuan untuk meningkatkan mutu dalam dunia pengukuran maka banyak kerugian-kerugian yang akan hadir bukan hanya untuk pasien bahkan untuk sebuah instansi kesehatannya pun akan mengalami banyak kerugian, karena menyangkut masalah nyawa seseorang.

Untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien, selain pengamatan secara fisik terhadap gejala yang muncul pada tubuh, dokter juga memerlukan alat bantu berupa alat-alat ukur yang dapat memberikan informasi lebih detil mengenai kondisi pasien. Informasi itu seringkali tidak bisa diperoleh secara langsung melalui pengamatan dengan pancaindera. Karena itu, alat ukur memiliki peran yang sangat besar untuk mendukung suksesnya diagnosis penyakit yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien.

Kesalahan informasi hasil pengukuran besaran fisik pada tubuh pasien akan berakibat pada kesalahan diagnosis maupun tindakan medis yang diberikan kepada pasien tersebut. Karena termometer yang dipakai untuk mengukur suhu tubuh pasien tidak bekerja secara normal, seorang pasien yang sebetulnya terserang penyakit demam berdarah, hasil diagnosisnya menyatakan pasien tersebut hanya terserang flu, sehingga dokter salah dalam memberikan tindakan medis maupun pemberian obat.

Karena alat ukur tekanan darah tidak bekerja secara normal, pasien yang tidak mengidap tekanan darah tinggi bisa diberi tindakan medis layaknya pasien darah tinggi. Dosis obat yang diberikan kepada pasien bisa tidak tepat manakala hasil penimbangan tubuh pasien tidak akurat. Dokter melakukan malpraktek karena kesalahan alat ukur yang digunakannya, dan nyawa pasien pun menjadi terancam karena ketidaktepatan data pasien yang diperoleh dari pengukuran.

Dalam kegiatan metrologi, memang berlaku azas praduga salah, karena tidak ada satu pengukuran pun yang tidak mengandung kesalahan. Jadi, sebelum ditelusuri melalui pengujian dan kalibrasi dengan alat yang memiliki ketelitian lebih tinggi, data hasil pengukuran tersebut harus dianggap salah. Kalibrasi merupakan istilah yang telah dibakukan dalam Bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari istilah calibration dalam bahasa Inggris. Kegiatan kalibrasi adalah kegiatan menentukan kebenaran penunjukan suatu alat ukur. Dengan kalibrasi ini diharapkan kerugian-kerugian yang terjadi akibat salah indikasi atau penyimpangan penunjukan dan pembacaan pada alat ukur dapat dihindari.

 

 

Undang –Undang Rumah Sakit Tahun 2009 telah mewajibkan bahwa setiap peralatan medik yang digunakan di rumah sakit harus dilakukan pengujian dan kalibrasi secara berkala. Mengingat masih rendahnya pelayanan pengujian dan kalibrasi peralatan medis di Indonesia serta masih kurangnya pengertian dan pemahaman rumah sakit, baik Daerah, Dinas Kesehatan Propinsi, ataupun Kabupaten/Kota terhadap perlunya kalibrasi dan pengujian ini, maka perlu dilakukan sosialisasi dalam bentuk Kebijakan Pengujian dan Kalibrasi Peralatan Kesehatan kepada para praktisi kesehatan maupun rumah sakit-rumah sakit di seluruh Indonesia.

Pengujian dan kalibrasi peralatan kesehatan sejalan dengan program peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat, seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Pada Pasal 16 ayat 2 ditegaskan bahwa peralatan medis harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan/atau Institusi Penguji Yang Berwenang.

Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) sebagai institusi penguji dan kalibrasi alat kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.363/Menkes/Per/IV/1998, diberi tugas melakukan pengujian dan kalibrasi peralatan kesehatan di sarana pelayanan kesehatan untuk menjamin mutu (ketelitian, ketepatan dan keamanan) peralatan kesehatan. Kebijakan terkait yang mendukung pengujian dan kalibrasi adalah Peraturan Pemerintah (PP) No.72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. Sejalan dengan pelaksanaan pengujian dan kalibrasi yang dilakukan oleh BPFK, dikeluarkan pula PP No.13 Tahun 2009 tentang Pola Tarif yang berlaku untuk pengujian dan kalibrasi alat kesehatan.

Pengujian dan kalibrasi alat kesehatan terkait dengan keselamatan pasien saat ini sudah mulai masuk ke ranah hukum, sehingga pelaksanaan pengujian dan kalibrasi alat kesehatan bukan hanya sekadar untuk mengikuti Peraturan Menteri Kesehatan. Namun, yang lebih penting dari itu adalah dalam rangka menjamin kualitas pelayanan medis dan keamanan pasien. Peralatan medis harus memenuhi standar keamanan, keselamatan, kemanfaatan, dan laik pakai. Untuk menjamin terpenuhinya ketentuan tersebut maka terhadap setiap jenis peralatan medis harus dilakukan pengujian dan kalibrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Karena peningkatan mutu dalam dunia kesehatan sangat diperlukan maka dari itu dibutuhkan peranan metrologi untuk membantu meningkatkan mutu tersebut. Ilmu metrologi harus digunakan dalam dunia kesehatan. Oleh sebab itulah peranan metrologi dalam peningkatan mutu kesehatan sangat penting dan sangat diperlukan.

 

Catatan:
Tulisan di atas yang berjudul Peran Metrologi dalam Peningkatan Mutu Kesehatan adalah hasil karya Yuli Mulyana (Mahasiswa Prodi Informatika ITI Angkatan 2012). Essay ini berhasil menjadi Juara I dalam Lomba Penulisan Essay yang diadakan oleh Pusat Penelitian Metrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit-LIPI) dalam rangka memperingati Hari Metrologi Dunia (World Metrology Day) pada tanggal 20 Mei 2015.

Tinggalkan Balasan