online_learning_dan_covid_19
01 Apr 2020

Pembelajaran Jarak Jauh (Online Learning) Saat WFH: Permasalahan dan Solusi

Beritahu teman

>>>
Online learning yang berbarengan dengan WFH (Work From Home) saat pandemi virus Corona (COVID-19) ternyata menimbulkan permasalahan tersendiri. Baik problem itu muncul dari pembelajaran jarak jauh saja, atau dari WFH saja atau masalah yang saling terkait antara keduanya.

Namun demikian, tulisan ini tidak bermaksud memberikan solusi menyeluruh. Tulisan ini sekedar catatan ringan saja atas fenomena pembelajaran jarak jauh yang sedang trending saat wabah virus Corona seperti sekarang ini. Meskipun demikian, di akhir tulisan akan diberikan suatu solusi dari seorang pakar juga.

Namun, alangkahnya baiknya bila terlebih dahulu ditonton video di bawah ini yang bertema Online Learning dan Permasalahannya sebelum dilanjutkan dengan membaca keseluruhan tulisan ini.

 

 

Yuk sekarang kita lihat praktek online learning di beberapa negara saat wabah COVID-19 ini. Langkah yang diambil negara tetangga kita Singapura ternyata tidak dengan meliburkan sekolah atau universitas mereka.

Para siswa sekolah dasar, SMP/SMA dan mahasiswa perguruan tinggi tetap melakukan pembelajaran secara normal. Hanya saja Kementerian Pendidikan sana mewajibkan online learning satu hari dalam seminggu bagi sekolah dan universitas.

Caranya adalah dengan mengatur jadwal pembelajaran jarak jauh mereka. Yakni bagi siswa sekolah dasar melakukannya 3a2setiap hari Rabu. Bagi siswa SMP/SMA hari Kamis. Dan bagi mahasiwa perguruan tinggi melakukannya pada hari Jumat. Dengan demikian, online learning tetap diberlakukan namun dengan frekuensi sangat kecil.

Apa alasan Singapura melakukan hal itu? Kementerian Pendidikan Singapura beralasan bahwa jika online learning diberlakukan full 5 hari dalam seminggu, dan pada saat yang sama orang tua juga banyak yang harus melakukan WFH, maka hal itu dianggap akan mengganggu kerja di rumah yang dilakukan para orang tua. Jadi potensi masalah bagi orang tua saat WFH diberikan solusinya dalam bentuk tidak meliburkan sekolah dan universitas. Hmm, aneh juga ya, alasannya?

Lain lagi yang dilakukan oleh Hong Kong. Negara ini telah meliburkan sekolah dan universitas mereka sejak 5 Februari lalu. Diharapkan mereka akan belajar normal kembali di sekolah atau universitas pada 20 April mendatang. Nah ,selama itu maka seluruh sekolah dan perguruan tinggi melakukan pembelajaran secara daring atau jarak jauh lewat jaringan internet.

Hanya saja mereka menyadari suatu potensi masalah, bahwa bagi siswa sekolah dasar yang masih harus aktif bergerak, kondisi pembelajaran jarak jauh sebenarnya sangat membatasi pergerakan mereka.

Solusinya, para siswa di Hong Kong diminta berolahraga lewat instruksi online. Mereka diminta melakukan gerakan-gerakan tertentu, menirukan gerakan instruktur yang terlihat lewat video online melalui laptop mereka masing-masing. Jadi di Hong Kong pembelajaran jarak jauh diberlakukan secara penuh, namun dengan diselipi aktivitas olahraga lewat instruktur online.

Nah, jika kita sudah melihat kondisi pembelajaran jarak jauh di beberapa negara di atas, bagaimana dengan di Indonesia? Jawabannya diserahkan kepada Anda yang sudah merasakan bagaimana pembelajaran jarak jauh di sekolah atau perguruan tinggi masing-masing hingga saat ini.

Online learning yang “terpaksa” ditempuh akibat pandemi virus Corona yang tiba-tiba datang tanpa diundang, bagi banyak sekolah dan universitas tentu akan berakibat pada berbagai konsekuensi. Misalkan akan ditemuinya banyak permasalahan dan kendala di lapangan.

Baik persoalan teknis seperti ketiadaan jaringan, ketidakstabilan koneksi jaringan, keterbatasan kuota internet dan lain sebagainya. Hingga permasalahan non-teknis seperti ketidaksiapan instruktur maupun siswa dan mahasiswa sendiri, dan persoalan lainnya saat pelaksanaan online learning seperti diilustrasikan pada video di atas.

Hanya saja, agar pembelajaran jarak jauh berhasil mencapai target yang ditentukan meski dengan berbagai keterbatasan yang ada, solusi berikut ini dikutipkan berdasarkan saran-saran seorang pakar kesuksesan dan pencapaian, Brian Tracy di dalam bukunya Get Smart:

 

1. Perlu Kejelasan

 

Apa yang perlu saya pelajari? Apa yang perlu saya kerjakan? Bagaimana agar saya dapat menguasai materi ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menunjukkan bahwa kita sebenarnya perlu sejumlah kejelasan sebelum melangkah.

Mendefinisikan masalah yang ditemui sejelas-jelasnya, mempelajari materi berulang-ulang agar dapat dipahami, menanyakan hal-hal yang masih kabur kepada pemberi tugas adalah sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk memberikan kejelasan dalam mencapai target yang ditetapkan.

Ingat saja rumusan ini: kejelasan suatu masalah merupakan separuh jalan dari pencarian solusi atas masalah itu.

 

2. Perlu Fokus

 

Seringkali kita menunda melakukan beberapa hal, padahal hal-hal itu sebenarnya adalah hal yang penting. Akibatnya, target suatu tugas tidak tercapai dengan baik atau malah tidak tercapai sama sekali.

Setelah kita mampu melakukan aktivitas no 1 di atas (mencari Kejelasan), maka langkah selanjutnya adalah mulai melakukan suatu tugas. Mulailah dengan tugas yang paling penting. Mulailah dengan fokus mengerjakannya dalam 10 menit saja agar tugas itu benar-benar mulai dilakukan. Tundalah tugas-tugas lain yang bernilai rendah untuk dikerjakan setelah tugas paling penting ini selesai.

Memecah-mecah tugas paling penting bisa membantu penyelesaian tugas itu. Tugas paling penting biasanya juga tugas yang besar. Pecahlah menjadi beberapa bagian tugas kecil-kecil. Lakukan mulai dari tugas kecil itu saja hingga selesai satu demi satu. Dengan cara ini sifat menunda-nunda akan hilang dengan sendirinya.

Untuk membantu kita, ingat saja rumusan ini: penyelesaian suatu tugas akan melepaskan zat endorfin (obat bahagia alami) di otak kita. Endorfin akan meningkatkan kreativitas, memotivasi dan memberikan energi. Mmebuat kita merasa lebih kuat dan produktif

 

3. Perlu Konsentrasi

 

Ada beberapa hal yang bisa menghilangkan konsentrasi kita saat kita sudah mulai mengerjakan suatu tugas paling penting. Hal-hal itu bisa kita sebut sebagai pengalih perhatian.

Yang terbesar adalah gangguan dari notifikasi gadget baik chat WA, Line, email masuk, keinginan update atau membaca status di FB, Instagram dan lain sebagainya yang terkait dengan media sosial.

Solusinya, matikan semua media sosial sebelum kita melakukan suatu tugas terpenting kita. Hanya buka media sosial pada jam-jam tertentu, misalkan pada jam 11 dan jam 3 sore.

Surat kabar USA Today pernah menulis, bahwa seringnya mengecek email atau pesan singkat bisa menghabiskan bahan bakar otak (glukosa) dengan cepat. Pegawai yang ketagihan mengecek email atau pesan singkat rata-rata kehilangan 10 poin IQ setiap hari.

Suatu penelitian juga mengatakan bahwa dibutuhkan waktu selama 17 menit bagi kita untuk kembali berkosentrasi ke pekerjaan setelah merespons pesan masuk.

Agar kita bisa tetap berkonsentrasi menyelesaikan suatu tugas, ingat rumusan ini: social networking = social, not working (Jaringan sosial / medsos berarti bersosialisasi, bukan bekerja).

 

Sumber video: Charles The French Channel di Youtube

 

Tinggalkan Balasan