Nomophobia_dan_efek_negatif_smartphone
01 Jan 2020

Nomophobia dan Dampak Negatif Smartphone Lainnya

Beritahu teman
>>>
Hasil penelitian / studi tentang nomofobia (nomophobia) sebagai efek / dampak negatif ponsel cerdas (smartphone) pada anak dan remaja belakangan ini banyak bermunculan. Hal itu seiring dengan kemunculan efek negatif lainnya dari penggunaan ponsel pintar ini.

Nomophobia sendiri adalah rasa takut atau cemas jika berjauhan dari smartphone. Seolah ponsel cerdas seseorang tidak boleh dilepas barang sedikit pun. Fenomena ini terutama menimpa kalangan generasi milenial.

Karena pentingnya mengatasi nomofobia ini, maka dirasa perlu untuk meringkas sejumlah hasil-hasil penelitian terkait hal tersebut, berikut antisipasi atau solusi cara orang tua mengatasi kecanduan ponsel cerdas anak mereka. Sehingga diharapkan dapat terwujud kesehatan digital (digital wellbeing) di kalangan generasi milenial.

Tulisan ini selanjutnya diorganisir ke dalam pembahasan poin-poin berikut ini;

 

1. Fakta tentang Smartphone (Ponsel Cerdas)

 

Perkembangan gadget digital seperti ponsel pintar memang luar biasa. Berikut ini sejumlah fakta dan data mengenai smartphone di seluruh dunia [1]:
– Pemakai ponsel cerdas sedunia kemarin telah mencapai 2,71 miliar. Diprediksi akan meningkat menjadi 2,87 miliar di tahun 2020.
– Total aplikasi ponsel yang diunduh tahun 2018 kemarin mencapai 194 miliar.
– Penjualan smartphone tahun 2018 mencapai 1,56 miliar sedunia.
– Ponsel merupakan perangkat yang paling banyak dipakai untuk mengakses internet tahun 2018 kemarin, yakni mencapai 52,2% dari total trafik.
– Pangsa pasar penjualan ponsel cerdas dikuasai Cina (106.000.000 unit), India (40.400.000 unit) dan AS (40.000.000 unit)
– Korea Selatan mendominasi kepemilikan ponsel cerdas, sedangkan Cina terbanyak dalam hal mengakses internet melalui smartphone.

 

2. Definisi Nomofobia

 

Nomofobia sendiri adalah perasaan cemas atau takut lepas dari ponsel. Nomophobia sebenarnya singkatan dari no-mobile phobia. Rasa takut jauh dari ponsel ini bahkan sudah mengarah kepada gangguan jiwa, bukan lagi sekedar kecanduan.

 

3. Hasil-hasil Penelitian tentang Nomofobia

 

Dalam penelitian berdasarkan inisiatif Jawatan Pos Inggris di tahun 2010, YouGov menemukan hampir 53% pemakai ponsel merasa cemas jika berada dalam 3 kondisi berikut:
– kehilangan ponsel cerdasnya
– kehabisan baterai atau kuota
– jaringan di luar jangkauan

TechJury mengemukakan data bahwa 40% remaja sedunia kecanduan ponsel cerdas. Angka ini meningkat sebanyak 17% dari saat ponsel pertama kali masuk ke pasar tahun 2009 & meningkat 58% dari angka di tahun 1991. Dan dalam studi lainnya yang dilakukan ilmuwan kampus MIT di AS, ditemukan bahwa 1 dari 10 remaja kurang tidur, karena lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar ponsel.

 

(Baca juga: Frekuensi Ajaib Penghancur Sel Kanker)

 

Perasaan hampa, kosong dan depresi merupakan efek negatif lainnya seperti yang ditunjukkan oleh peneliti dari University of Maryland. Dalam penelitian bertitel The World Unplugged Project di 10 negara bagian AS, responden diminta berhenti mengakses ponselnya selama dua puluh empat jam. Hasilnya mereka kelihatan linglung, canggung dan tidak semangat. Sepertiga dari mereka lebih suka meninggalkan tiga hal yang paling mereka sukai daripada harus meninggalkan ponsel cerdasnya.

 

4. Dampak Negatif Lainnya dari Ponsel Cerdas

 

Efek atau dampak negatif ponsel cerdas (gadget digital) juga disinyalir oleh WHO. Dampak negatif ini berwujud gangguan fisik dan mental, juga terhadap nilai para remaja itu di sekolah. Selain kehidupan sosial mereka, kemampuan akademis mereka pun terkena dampak negatif ponsel cerdas ini.

Terdapat sebuah video eksperimen mengenai efek negatif smartphone yang dilakukan oleh CNA Insider Channel di Youtube berjudul Apakah e-Learning Menurunkan Kecerdasan Anak? (Is E-Learning Dumbing Down Your Kids?) [2]. Di video di bawah ini diperlihatkan bahwa screen time (aktivitas di depan layar ponsel) selama 15 menit berdampak terhadap kemampuan mengingat dan konsentrasi seorang anak berumur 4 tahun.

 

 

Sebuah penelitian lainnya di AS ternyata mendapati bahwa 67% lebih guru dari total 2.300 responden guru percaya bahwa semakin banyak anak yang terdampak negatif oleh ponsel di kelas. Terdapat 75% guru yang memperhatikan bahwa kemampuan anak untuk fokus terhadap tugas-tugas sekolah juga menurun.

 

5. Gangguan Kesehatan Akibat Berlebihan Menggunakan Ponsel Cerdas

 

Di dalam [4], dijelaskan sejumlah gangguan kesehatan yang bisa ditemui, seperti gangguan tulang belakang akibat adanya tekanan pada tengkuk ketika menatap layar ponsel dalam waktu lama. Rasa kaku atau mati rasa pada siku (cubital tunnel syndrome) juga biasa ditemui akibat terlalu lama melakukan / menerima panggilan telepon.

Selain itu, mata yang tegang sehingga mengakibatkan sakit kepala juga sering terjadi. Pendengaran bisa juga bermasalah sebagai akibat mendengarkan music terlalu lama dengan volume kencang.

Yang jarang terdengar namun bisa juga terjadi adalah cedera jempol (radang sendi ibu jari) akibat sering menulis di layar ponsel cerdas. Jika hal ini dibiarkan, bisa menyebabkan tendonitis yaitu rasa ngilu terus menerus.

Bahkan sperma pria pun bisa terganggu. Hal itu akibat penggunaan Wifi lebih dari empat jam sehingga radiasi elektromagnetik berpengaruh terhadap jumlah sperma (menurut sebuah penelitian di tahun 2011).

 

 

6. Penanganan Kecanduan Ponsel Cerdas di Indonesia

 

Kalangan remaja milenial yang kecanduan ponsel cerdas merasakan kepuasan langsung yang ditawarkan oleh ponsel cerdas. Neuron otak mereka terpicu sehingga otak melepaskan dopamin. Inilah yang menyebabkan mereka ketagihan hingga kecanduan ponsel cerdas. Hal ini dijelaskan oleh Isaac Vaghefi, pengajar di Binghamton University-State University of New York.

Di Indonesia, penanganan terhadap remaja yang kecanduan smartphone telah dilakukan oleh sejumlah Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Data yang didapat dari rumah sakit jiwa tersebut cukup membuat miris.

RSJ Cisarua, Jawa Barat tahun lalu menangani hingga 12 anak-anak yang kecanduan ponsel dalam sebulan. RSJ Daerah Surakarta, Jawa Tengah hingga pertengahan tahun 2019 telah merawat 35 remaja yang kecanduan ponsel .

Para remaja yang mengalami kecanduan itu jelas akan terganggu waktu belajarnya, waktu bermain dan waktu bersama keluarganya. Tentu saja jika mereka terlanjur ditangani oleh rumah sakit jiwa menunjukkan adanya keterlambatan pencegahan yang semestinya bisa dilakukan sebelum itu. Oleh karena itu dirasakan semakin perlu membatasi akses digital dalam kehidupan remaja milenial kita.

 

7. Kesehatan Digital (Digital Wellbeing)

 

Nancy Colier yang telah menulis beberapa buku detoksifikasi digital mengibaratkan akses sepanjang waktu terhadap ponsel sebagai penerbangan tanpa jeda. Atau komputer yang terus menyala tanpa proses reboot. Kondisi kita saat ini justru mungkin tidak pernah melakukan proses reboot ini.

Dr. Nopriadi Hermani di dalam bukunya The Model for Smart Parents juga menyinggung suatu fenomena yang disebut popcorn brain [3]. Popcorn brain ini adalah keadaan otak anak yang terpapar layar digital terus menerus sehingga selalu merespons stimulus yang kuat, seolah otak mereka meletup-letup. Akibatnya, anak-anak selalu mencari hal yang semangkin brutal, impulsive, cepat dan merangsang imajinasi.

Selanjutnya, ketertarikan mereka terhadap tulisan hitam-putih seperti pada buku cetak akan berkurang. Akibatnya mereka kesulitan untuk mencerna isi buku, terlebih yang tebal-tebal. Pada akhirnya, mereka akan miskin informasi bermakna, namun berlimpah informasi remahan (twaddle).

 

(Baca juga: Photonics Chip dan Serat Optik Membuka Jalan Jaringan 6G)

 

Melihat kondisi remaja milenial yang rentan inilah, 2 investor besar Apple yakni Jana Partners, LLC dan The California State Teachers’ Retirement System (CalSTRS) menulis surat terbuka di tahun 2018 kemarin. Mereka ingin ada suatu perangkat lunak yang bisa membatasi akses ponsel cerdas bagi anak-anak [4].

Apple pun merespons dengan cepat. Mereka membuat fitur baru pada iPhone dan iPad yang bernama Digital Health (belakangan berubah nama menjadi Screen Time). Google juga merespons dengan fitur serupa ketika meluncurkan versi Android 9 (Pie). Dengan fitur ini, pengguna ponsel akan tahu berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk setiap aplikasi. Pengguna juga dapat membatasi waktu akses terhadap suatu aplikasi tertentu.

 

8. Cara Mengatasi Kecanduan Smartphone (Ponsel Cerdas) pada Anak-anak

 

Dr. Nopriadi Hermani dalam bukunya di atas menyarankan para orang tua untuk memperlambat pengenalan ponsel cerdas kepada anak-anak. Persiapkan mereka dengan matang secara mental lebih dulu sebelum dikenalkan dengan ponsel. Meski Dr. Nopriadi tidak menyebut batasan umur kapan anak mulai dikenalkan dengan ponsel, beberapa contoh yang diberikannya berikut ini bisa dijadikan gambaran para orang tua.

Jajaran petinggi perusahaan teknologi / komputer seperti Google, Apple, Yahoo, HP dan eBay menyekolahkan anak-anak mereka di Waldorf School of Peninsula. Sekolah ini dikenal tidak menyediakan komputer bagi murid-muridnya. Meskipun demikian, Waldorf School tingkat SMA tersebut memiliki 94% lulusan yang diterima di kampus-kampus besar di Oberlin, Berkeley dan Vassar.

Jika para orang tua masih bimbang untuk tidak mengenalkan perangkat digital sejak dini kepada anak-anak mereka, simak apa yang pernah dikatakan Alan Page (salah seorang eksekutif Google) berikut ini:

 

“Komputer itu sangat mudah. Google sengaja membikin perangkat yang ibaratnya dapat digunakan tanpa mikir. Anak-anak toh tetap dapat belajar komputer sendirian bila mereka beranjak dewasa nanti.”

 

Referensi:
[1] Siwi Tri Puji B. Nomofobia di Sekitar Kita. Republika, 30 Oktober 2019.
[2] CNA Insider Channel on Youtube
[3] Nopriadi Hermani. The MODEL for Smart Parents. Cetakan Pertama. Self-Model (SM) Publisher, Yogyakarta, 2016.
[4] Siwi Tri Puji B. Menuntut Tanggung Jawab Vendor. Republika, 30 Oktober 2019.

 

Catatan:
Tulisan di atas adalah karya Adi Setiawan (staf pengajar Prodi Teknik Elektro ITI)

 

Tinggalkan Balasan