Pasar-Ternak-Terpadu-dan-Timbangan-Ternak-Digital
07 Nov 2019

Menggagas Pasar Ternak Terpadu dengan Timbangan Ternak Digital

Beritahu teman
>>>
Tulisan mengenai pasar ternak terpadu dan timbangan ternak otomatis ini diambil seluruhnya dari [1]. Adapun susunan tulisan dibuat dengan poin-poin sebagai berikut:
1. Latar Belakang Pasar Ternak
2. State of The Art Pasar Ternak
3. Definisi Timbangan
4. Timbangan Ternak
5. Pertimbangan Pemilihan Jenis Timbangan Ternak

Berikut ini adalah uraian kelima sub judul tersebut.

 

1. Latar Belakang Pasar Ternak (Asia, Julianto)

 

Pada umumnya pasar ternak di Indonesia masih dikategorikan sebagai pasar tradisional, karena sistem transaksi jual belinya masih dilakukan secara tradisional. Penetapan harga ternak dilakukan berdasarkan penaksiran ketampakan ternak, belum berdasarkan bobot badan yang diukur dengan timbangan atau alat ukur lainnya yang dinilai berdasarkan kualitas/kelas mutu (grade).

Karena belum ada standar harga, sering kali harga dipermainkan oleh para pedagang. Jual beli secara terbuka/lelang juga belum umum dilakukan. Sementara itu, bangunan fisik pasar dan sarana prasarana (kandang karantina, kandang berdasarkan umur/ jenis kelamin, alat ukur/timbangan) yang ada di pasar juga belum memadai, hanya merupakan lapangan terbuka untuk tempat ternak yang akan dijual.

Pasar ternak seyogyanya dapat mendukung fungsi pasar ternak, sehingga memerlukan kelengkapan sarana usaha seperti Rumah Potong Hewan (RPH), tempat penampungan ternak / shelter ternak dengan ruang pemisah (antara ternak muda, dewasa, pejantan, induk), ruang penaksiran yang dilengkapi dengan alat ukur, dan timbangan, pemasaran daging atau Meat Business Centre dan produk olahan pangan yang berasal dari ternak. Pasar ternak seperti ini dapatlah dikatakan sebagai pasar ternak terpadu.

Untuk dapat membuat sistem pasar ternak terpadu tersebut tentu erat kaitannya dengan teknologi. Penerapan teknologi yang lebih baik tentunya dapat meningkatkan efisiensi waktu dan keakuratan data yang diperoleh, semisal dalam hal penimbangan dan pengelolaan data hewan ternak. Salah satu penggunaan teknologi yang menjadi solusi untuk hal di atas adalah sistem timbangan otomatis digital, yang dibangun menggunakan kerangkeng dan berbasis RFID.

 

2. State of the Art Pasar Ternak

 

Dengan semakin kuatnya desakan perdagangan yang semakin liberal dan bebas, maka proses perubahan mulai terjadi pada sebagian pasar ternak, terutama pasar ternak sapi dan kerbau. Perdagangan ternak besar di beberapa pasar ternak sudah menggunakan berat badan (BB) maupun “grade” atau kelas mutu sebagai dasar penentuan harga. Dengan begitu, penggunaan timbangan dan penerapan “grading” mulai menjadi kebutuhan.

Keberadaan pasar ternak ideal, modern dan higienis diperlukan untuk menjamin perdagangan sapi yang fair dan menjamin pasokan daging yang berkualitas. Pasar ternak modern mencakup sistem dan kelembagaan pasar ternak itu sendiri. Secara fisik, pasar ternak semestinya harus mendukung fungsi pasar ternak. Untuk itu tentu dibutuhkan adanya kelengkapan sarana usaha, semisal Rumah Potong Hewan (RPH).

Sejumlah kebutuhan lainnya perlu diadakan juga, seperti tempat penampungan/pengelompokan ternak/ shelter ternak dengan ruang pemisah (antara ternak muda, dewasa, pejantan, induk), ruang penaksiran yang dilengkapi dengan alat ukur dan timbangan, pemasaran daging atau Meat Business Centre serta produk olahan pangan yang berasal dari ternak.

Berikut ini adalah perincian beberapa tipe pasar ternak modern menurut Panduan Umum Operasional Pasar Ternak (Sapi dan Kerbau), Direktorat Jenderal Pengelolaan & Pemasaran Hasil Pertanian tahun 2006:

1. Pasar Ternak Tipe A Kapasitas 600 ekor satuan ternak, luas areal 1 ha dan lokasi di kabupaten/kota, fasilitas meliputi: kantor; tempat peristirahatan ternak; timbangan ternak kapasitas 2000 kg, feed lotter; pembuangan limbah; pagar keliling; pakan ternak dan hijauan makanan ternak (HMT) ; air minum ternak; tempat untuk menaikkan dan menurunkan ternak; kandang isolasi; tempat parkir kendaraan; kandang jepit; lantai tanah yang dipadatkan; tempat lelang ternak; tempat khusus setiap jenis ternak (sapi potong, sapi perah, sapi bibit, kambing, domba, sapi hasil IB, kerbau); tempat ibadah.

2. Pasar Ternak Tipe B Kapasitas 200 ekor satuan ternak, luas areal 0,5 ha dan berlokasi di kecamatan. Fasilitas terdiri: kantor, tempat peristirahatan ternak, timbangan ternak kapasitas 2000 kg, pagar keliling, pakan ternak dan HMT; lantai tanah, cukup air minum ternak, tempat untuk menaikkan dan menurunkan ternak, kandang jepit; tempat khusus untuk ternak (sapi potong, sapi perah, sapi bibit, kambing/domba, sapi hasil IB) dan tempat ibadah.

3. Pasar Ternak Tipe C Kapasitas 100 ekor satuan ternak, luas areal 0,25 ha dan berlokasi di desa. Fasilitas terdiri dari: kandang ternak, pagar keliling, timbangan ternak kapasitas 2000 kg, HMT cukup, air minum cukup, tempat untuk menaikkan dan menurunkan ternak, tempat untuk sapi/kerbau dan tempat khusus kambing/domba.

 

 

3. Definisi Timbangan

 

Timbangan adalah alat yang dipakai melakukan pengukuran berat suatu benda. Terdapat dua sistem kategori dalam timbangan, yaitu timbangan dengan sistem mekanik / analog dan sistem elektronik / digital. Salah satu bentuk timbangan dengan sistem mekanik yaitu terdapat pada neraca pegas (dinamometer). Neraca pegas adalah timbangan sederhana yang menggunakan pegas sebagai alat untuk menentukan massa yang diukurnya. Contoh bentuk neraca pegas terdapat pada timbangan badan yang dipergunakan untuk mengukur berat badan (http://www.timbangandigital.co.id/timbangan-hewan.html).

Seiring berkembangnya waktu dan teknologi, secara perlahan sistem kerja timbangan analog mulai tersisihkan oleh timbangan digital. Salah satu penyebabnya adalah karena timbangan digital lebih praktis, mudah dibaca, dan tampilan yang terkesan lebih mewah. Pada timbangan digital terdapat sebuah sensor bila kita melepas tutup rangka timbangan digital tepat berada di bawah alas peletakan beban.

Sensor alat timbang akan bekerja ketika mendapat sebuah tekanan yang diletakkan di atasnya. Kemudian sensor tersebut mengkonversi besarnya regangan atau hasil tekanan yang terjadi menjadi tegangan listrik yang diolah oleh suatu prosesor dan ditampilkan pada layar LCD berupa hasil pengukuran berat benda tersebut.

Timbangan dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori berdasarkan klasifikasinya. Jika dilihat dari cara kerjanya, jenis timbangan dapat dibedakan atas (https://id.wikipedia.org/wiki/Timbangan):

• Timbangan Manual, yaitu jenis timbangan yang bekerja secara mekanis dengan sistem pegas. Biasanya jenis timbangan ini menggunakan indikator berupa jarum sebagai penunjuk ukuran massa yang telah terskala.
• Timbangan Digital, yaitu jenis timbangan yang bekerja secara elektronis dengan tenaga listrik. Umumnya timbangan ini menggunakan arus lemah dan indikatornya berupa angka digital pada layar bacaan.
• Timbangan Hybrid, yaitu timbangan yang cara kerjanya merupakan perpaduan antara timbangan manual dan digital. Timbangan Hybrid ini biasa digunakan untuk lokasi penimbangan yang tidak ada aliran listrik. Timbangan Hybrid menggunakan display digital tetapi bagian platform menggunakan plat mekanik.

 

4. Timbangan Ternak

 

Timbangan Hewan/Ternak, yaitu jenis timbangan yang digunakan untuk menimbang hewan baik sapi, kerbau maupun kambing serta sejenisnya. Gambar 1 berikut ini adalah contoh model timbangan ternak digital dengan kerangkeng.

 

Timbangan Ternak Otomatis
Gambar 1. Model Timbangan Digital Otomatis Hasil Karya Institut Teknologi Indonesia

 

Model timbangan seperti di atas digunakan untuk menimbang binatang ternak dalam keadaan hidup. Oleh karena itu, apabila ternak dalam keadaan tidak diam, digunakan metode statistik untuk menentukan bobot ternak yang ditimbang (Pick Hold System). Dimensi dari timbangan ini 1 m x 2 m.

Timbangan ternak digital mempunyai kelebihan dibandingkan dengan timbangan analog atau manual, karena dapat berfungsi lebih dari alat ukur, yaitu dapat menimbang secara lebih akurat, presisi, akuntabel, dan dapat menyimpan hasil dari setiap timbangan. Sebagai informasi saja, timbangan tersebut telah berhasil direalisasikan oleh Institut Teknologi Indonesia Indonesia, khususnya oleh Prodi Teknik Elektro dan Prodi Teknologi dan Industri Pertanian.

 

5. Pertimbangan Pemilihan Jenis Timbangan Ternak

 

Pada timbangan untuk ternak, timbangan digital dan timbangan analog memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Timbangan hewan digital memiliki penampakan yang sama miripnya sebuah kerangkeng. Jadi penggunaannya adalah dengan memasukkan hewan ternak ke dalam kerangkeng tersebut untuk mengukur berat badannya.

Penggunaan sistem timbangan digital dengan kerangkeng ini memudahkan para penjaga ternak saat melakukan penimbangan, karena tidak perlu repot-repot memegangi hewan ternaknya. Selain itu pula, penggunaan sistem timbangan ini membuat hewan berada pada posisi yang aman. Karena, terkadang ada saja hewan yang mudah mengamuk ketika harus melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan insting hewaninya; dan salah satu contohnya adalah ketika hewan dalam proses penimbangan berat badan ini.

Berbeda halnya dengan timbangan ternak berbentuk analog, di mana saat ternak diukur berat badannya, tidak ada pembatas yang disediakan. Jadi posisi hewan ternak ditimbang benar-benar dalam keadaan terbuka seperti manusia ditimbang. Proses pengerjaan penimbangan ternak dengan sistem timbangan analog pun akan memakan waktu yang lebih lama. Penjaga ternak juga harus terlatih untuk menuntun ataupun menggiring ternak berdiri di atas lantai timbangan.

Perihal akurasi kedua timbangan ternak, baik dengan sistem digital maupun analog, dapat dikatakan timbangan digital mempunyai keunggulan lebih. Sistem pembacaan hasil timbangan analog tergantung pada kejelian mata pembaca timbangan. Sementara dalam timbangan digital, pembacaan sensor dikonversikan dalam bentuk angka dengan ketelitian sesuai dengan jumlah digit biner yang dikonversikan. Semakin banyak digit binernya, maka timbangan akan makin akurat. Tingkat keakurasian timbangan bergantung dari jenis Load Cell yang dipakai (Pratama, 2011).

Demikianlah tulisan mengenai gagasan pasar ternak terpadu dengan menggunakan timbangan ternak otomatis (digital) ini. Mudah-mudahan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Referensi:
[1] Novy Hapsari, Tris Dewi Indraswati dan Moh. Haifan. Laporan Kemajuan Penelitian Produk Terapan: Sistem Pasar Ternak Terpadu (Integrated Livestock Market System). Institut Teknologi Indonesia, 2017.

 

Catatan:
Menggagas Pasar Ternak Terpadu dengan Timbangan Ternak Digital adalah tulisan Novy Hapsari dan Tris Dewi Indraswati (keduanya adalah staf pengajar Prodi Teknik Elektro ITI), beserta Moh. Haifan (staf pengajar Prodi Teknologi dan Industri Pangan ITI). Ketiganya meraih Juara 1 dalam Lomba Inovasi Teknologi (Teknologi Tepat Guna) Tingkat Kota Tangerang Selatan dan Provinsi Banten serta Juara Harapan 1 Tingkat Nasional pada tahun 2019.

Tinggalkan Balasan