pola_pikir_wirausaha
08 Apr 2020

Membangun Pola Pikir Entrepreneur (Wirausahawan)

Beritahu teman

>>>
Membangun pola pikir yang bersifat entrepreneur (wirausahawan) sangat penting bagi suksesnya seseorang. Terlebih bagi wirausahawan atau pengusaha, sudah pasti wajib memiliki pola pikir entrepreneur demi kesuksesan bisnisnya.

Meskipun demikian, pola pikir wirausahawan (entrepreneur) ini bisa diterapkan pada segala jenis pekerjaan yang kita lakukan, bukan hanya pada bisnis. Sehingga para pegawai, karyawan, pegawai negeri sipil, buruh, teknisi dan lain sebagainya perlu mempelajari dan menerapkannya dalam pekerjaan masing-masing.

Dengan demikian perusahaan atau pihak yang mempekerjakan kita akan mendapat banyak manfaat dari kerja kita. Di samping itu, kita pun mendapat manfaat yang besar berupa berkembangnya potensi diri kita.

Sebagai informasi, per 18 Maret 2020 terdapat 2.095 milyuner di seluruh dunia dengan total kekayaan 8 trilyun dolar AS. Jumlah ini meningkat dari tahun 2015, di mana terdapat 1.826 milyuner dengan 66%-nya adalah dimulai dari usaha sendiri (wirausaha).

 

1. Wirausahawan (Entrepreneur)

 

Seorang wirausahawan (entrepreneur) menurut situs Wikipedia adalah orang yang memiliki seni dan ilmu dalam beraktivitas wirausaha dengan ciri-ciri sebagai berikut:
– pintar mengenali produk atau jasa baru
– memikirkan cara produksi dari produk atau jasa baru tersebut
– menyusun manajemen operasi untuk pengadaannya
– melakukan pemasaran produk atau jasa baru tersebut
– memanajemen pemodalan operasinya

Banyak wirausahawan membangun bisnis dengan modal nol, dan perlahan membangun bisnisnya. Ia menemukan produk dan layanan yang diinginkan banyak orang. Lalu menjualnya ke orang-orang tersebut yang bersedia membayar produk dan layanannya.

Wirausahawan tersebut berhasil dalam bisnisnya karena memiliki sifat/ciri-ciri tertentu sebagai entrepreneur. Di antaranya yang terpenting adalah karakteristik pada pola pikirnya yang bersifat entrepreneur.

Apa itu pola pikir entrepreneur (wirausahawan)? Berikut ini adalah penjelasannya.

 

2. Pola Pikir Wirausahawan (Entrepreneur)

 

Karakteriktik wirausahawan pertama adalah pola pikirnya berfokus kepada pelanggan. Setiap saat ia memikirkan pelanggan. Secara kontinu ia memikirkan pelanggan.

Terobsesi dengan layanan pelanggan adalah salah satu ciri penting dari bisnis yang sukses menurut Tom Peters penulis buku In Search of Excellence. Dalam bahasa yang hampir sama, menurut Brian Tracy penulis buku Get Smart!, obsesi terhadap penjualan dan cara menjual juga merupakan ciri penting lainnya.

Lawan dari pola pikir entrepreneur adalah pola pikir korporat. Pola pikir korporat ini disadari atau tidak menjangkiti sejumlah teknisi, buruh, pegawai, manajer, bahkan eksekutif perusahaan!

Di mata mereka, pelanggan atau konsumen adalah para pembuat masalah. Sesuatu yang harus dijauhkan sejauh-jauhnya. Kalau perlu mereka tidak perlu berhubungan lagi dengan konsumen yang suka menegeluh, sekali mereka membeli produk atau jasa mereka.

Orang-orang perusahaan itu hanya sibuk melakukan pekerjaannya. Melakukan pekerjaannya untuk menyenangkan atasan dan mengikuti aturan, hanya agar tidak terkena pemecatan.

Mereka tidak merasa ada hubungan antara kejadian yang ada di perusahaan dengan pribadi mereka. Mereka datang bekerja menjelang waktu kerja dan pulang sebelum waktu kerja berakhir.

Waktu kerja pun lebih banyak dihabiskan dengan hal-hal yang tidak terkait pekerjaan. Ketika di rumah, pikiran tentang pekerjaan hilang ambyar dari pikiran mereka.

Silakan tonton video Brian Tracy berikut mengenai Bagaimana Menjadi Wirausahawan (Entrepreneur) yang Sukses:

 

 

3. Keterikatan dan Komitmen

 

Karakteristik pola pikir wirausahawan kedua adalah komitmen. Sejumlah peneliti telah menyimpulkan bahwa lebih dari 60% pegawai di perusahaan kecil atau besar memiliki sikap tidak terikat dengan perusahaan mereka. Betul, mereka masih tetap masuk bekerja dan melakukan pekerjaan mereka.

Namun pikiran mereka mengembara ke tempat lainnya saat bekerja. Mereka masih mencari-cari peluang kerja di tempat lain dengan memasukkan CV atau resume ke Linkedin, JobsDB dan sebagainya.

Padahal komitmen atau keterikatan adalah kunci sukses perusahaan. Pegawai yang memiliki pola pikir wirausahawan memnadang diri mereka sebagai pegawai yang mandiri.

Mereka merasa perusahaan tersebut adalah perusahaan mereka sendiri. Orang-orang ini bersedia menerima tanggung jawab dan bertanggung jawab penuh atas hasil pekerjaannya.

Mereka juga fokus kepada konsumen. Membantu perusahaan mencari cara untuk meningkatkan penjualan dan meningkatkan layanan konsumen.

Mereka juga senantiasa berpikir untuk berkontribusi lebih besar kepada kesuksesan perusahaan. Caranya dengan belajar beberapa hal baru dan berusaha meningkatkan keahliannya.

 

4. Solusi: Tiga Pertanyaan untuk Bisnis Apa Pun

 

Dalam situasi dan persaingan tidak menentu akibat perkembangan yang sangat cepat dalam hal pengetahuan dan teknologi, ada baiknya dijawab 3 pertanyaan penting untuk bisnis apa pun berikut ini sebagai solusi menumbuhkan pola pikir wirausahawan.

 

A. Pertanyaan pertama: Bisnis Apa yang Sebenarnya Anda Lakukan?

 

Cobalah menjawabnya dalam hal bagaimnana Anda melayani konsumen dan perubahan besar apa yang dirasakan konsumen dalam kehidupan/pekerjaan mereka.

Misal, jika perusahaan Anda memproduksi mobil maka mereka yang berpola pikir wirausahawan akan menjawabnya dengan: “Saya membuat orang bisa bepergian ke mana saja dengan aman dan nyaman.” Namun orang dengan pola pikir korporat menjawabnya dengan: “Saya menjual mobil.”

Setelah pertanyaan pertama ini terjawab dengan jelas, maka selanjutnya adalah pertanyaan berikut.

 

B. Pertanyaan kedua: Apa Bidang Keunggulan Bisnis Anda?

 

Jack Welch, mantan CEO General Electric pernah mengatakan, “Jika anda tidak punya keunggulan kompetititf, jangan bersaing.”

Namun, Peter Drucker, penasihat bisnis dari Jack Welch menambahkan dengan nasihatnya, “Jika Anda tidak punya keunggulan kompetititf yang jelas, ciptakan saja.”

Agar sukses, sebuah perusahaan harus mendominasi di sebuah ceruk pasar tertentu dengan keunggulan kompetititfnya. Karena itu perlu dijawab beberapa pertanyaan turunan berikutnya: Di bidang apa Anda mendominasi atau kelak mendominasi pasar? Apa yang harus Anda lakukan lebih banyak atau lebih sedikit? Apa yang harus Anda mulai lakukan atau Anda hentikan sama sekali?

Di samping itu, sejumlah persoalan lainnya dapat muncul. Rasa-rasanya, tidak sedikit pegawai perusahaan yang didapati suka mengeluh. Jika terjadi hal ini, lebih baik jangan berprasangka buruk dulu. Namun perlu segera diatasi, agar waktu kerja produktif pegawai benar-benar digunakan untuk memberi kontribusi dalam mempertahankan keunggulan kompetitif perusahaan.

Sebab persoalan tersebut bisa datang dari faktor pribadi pegawai sendiri atau seringkali -tanpa disadari- dapat pula berasal dari pihak eksekutif. Masing-masing tampaknya harus siap introspeksi lalu memperbaikinya.

Salah satu faktor yang terkadang membuat karyawan mengeluh adalah pekerjaan sehari-hari yang dirasa membosankan, terlalu rumit, atau menyusahkan dan sejumput alasan lainnya. Oleh karena itu barangkali perlu dibedakan lebih dulu 2 hal berikut dalam hal internal perusahaan: core value dan pekerjaan teknis – adminsitratif.

Terhadap core value perusahaan, semisal kejujuran dan keterbukaan, maka perlu dilaksanakan secara ketat terhadap semua pegawai. Namun penting juga diperhatikan pelaksanaannya secara bijaksana di lapangan.

Selain itu, untuk mendukung terlaksananya core value / keunggulan kompetitif perusahaan perlu juga adanya pemikiran mengenai aturan turunan / pendukung yang perlu lebih fleksibel dan akomodatif.

Pemikiran pendukung / turunan itu dapat berupa SK eksekutif, atau sekedar aturan teknis-administratif dikeluarkan di level manajer. Aturan teknis-adminsitratif bahkan seringkali menjadi pekerjaan sehari-hari pegawai suatu perusahaan.

Bisa dipikirkan dampak positifnya yang besar bagi perusahaan apabila seluruh pegawai bekerja dengan gembira tanpa mengeluh. Waktu produktif mereka akan lebih banyak disalurkan untuk berkontribusi positif bagi perusahaan, karena kerja administratif mereka terasa jauh lebih ringan, lebih cepat dan lebih mudah dengan berbagai inovasi dari pegawai perusahaan sendiri atau dari konsultan yang dibayar perusahaan khusus untuk itu?

Bukankah baginda nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wassalam pernah menganjurkan, “Permudahlah dan jangan mempersulit?”. Bukankah dalam proses pembuatan SOP Standar Manajemen Mutu ISO pun berlaku adagium: Tulis yang Anda kerjakan dan lakukan yang Anda tulis.”

Maka permudahlah apa yang Anda tulis lebih dulu sebelum melakukannya.

Selanjutnya adalah pertanyaan terakhir.

 

C. Pertanyaan ketiga: Sudah Tepatkah Model Bisnis Anda?

 

Banyak perusahaan menjalankan model bisnis yang sudah ketinggalan jaman. Akibatknya penjualan dan keuntungan perusahaan semakin menurun.

Bagaimana menilai tepat tidaknya model bisnis Anda? Caranya adalah dengan melihat penjualan dan keuntungan perusahaan Anda, apakah meningkat dengan stabil dan dapat diprediksi?

Jika penjualan Anda tidak mudah diprediksi, atau terkadang naik terkadang turun, atau stabil namun tidak ada peningkatan sedikit pun, atau bahkan mengalami penurunan maka waspadalah. Saatnya mengubah model bisnis Anda atau bisnis Anda akan segera mati.

 

Sumber:

 

1. https://www.forbes.com/billionaires/
2. Brian Tracy. Get Smart!. Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2018
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Wirausahawan
4. Brian Tracy Channel di Youtube

 

Tinggalkan Balasan