Info Prodi
Rabu, 22 Mar 2023
  • Teknik Elektro Institut Teknologi Indonesia terakreditasi B oleh BAN PT. Lokasi kampus di dekat BSD, Tangerang Selatan, Banten. Teknik Elektro ITI berada di bawah LLDIKTI III Jakarta.
19 Maret 2023

Etika Menggunakan ChatGPT di Dunia Akademik

Minggu, 19 Maret 2023 Kategori : Artikel Ilmiah

Bagaimana etika penggunaan ChatGPT di dunia akademik / pendidikan, baik oleh dosen, guru, mahasiswa atau pun siswa? Tulisan berikut akan mengulas: i) manfaat ChatGPT bagi dunia akademik / pendidikan, ii) etika (panduan) penggunaan ChatGPT dalam dunia akademik dengan contoh kasus di kalangan perguruan tinggi / universitas serta di kalangan penerbit jurnal / publikasi ilmiah.

Dan di akhir tulisan ini juga akan diberikan informasi mengenai webinar mengenai etika menggunakan ChatGPT di lingkungan akademik oleh sejumlah guru besar dari Universitas Indonesia.

A. Manfaat ChatGPT Bagi Dunia Akademik / Pendidikan

Sejak kemunculan ChatGPT akhir November 2022 lalu, diikuti dengan dirilisnya versi terbaru ChatGPT yakni GPT-4, dunia akademik seolah tidak berhenti membicarakannya. Perdebatan pro dan kontra terkait penggunaannya untuk keperluan akademik pun ramai di internet.

Sudah maklum diketahui, bahwa meskipun ChatGPT memiliki sejumlah keterbatasan, seperti tidak terhubung dengan internet dan adakalanya menciptakan halusinasi atau ketidakakuratan informasi, ChatGPT tetap dianggap sebagai alat bantu yang dapat mempermudah dan mempersingkat waktu sejumlah aktivitas di dunia akademik.

Kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang banyak terbantu dengan kehadiran ChatGPT seperti menulis, memparafrase tulisan, membuat ringkasan, memperbaiki tata bahasa Inggris suatu tulisan serta mengoreksi kesalahannya, memberikan saran struktur tulisan, memberikan ide judul tulisan yang menarik, membuat kode program, menjelaskan kode program, membuat pendekatan alternatif kode program, membantu dosen / peneliti dalam melakukan riset literatur, membuat lesson plan, membuat kuis dan membuat survey sudah cukup banyak dibahas dalam artikel-artikel web maupun jurnal-jurnal ilmiah, semisal di [1].

B. Etika / Panduan Penggunaan ChatGPT: Contoh Kasus di Universitas

Sejumlah kalangan perguruan tinggi / universitas telah merespons kehadiran ChatGPT dengan mengeluarkan kebijakan (policy) atau panduan (guidelines) terkait penggunaan ChatGPT dalam kegiatan akademik.

Misalnya Universiti Putra Malaysia (UPM) telah mengeluarkan Guide for ChatGPT Usage in Teaching and Learning [2].

Poin-poin penting yang ada dalam panduan penggunaan ChatGPT UPM Malaysia antara lain:

  1. Mahasiswa diijinkan menggunakan ChatGPT dengan memberikan ruang diskusi terkait aturan akademik yang telah ditetapkan.
  2. Memastikan mahasiswa memahami kuliah dengan memberikan assesment yang menilai proses mengingat hal-hal seperti waktu tertentu, subyek tertentu atau kejadian di masa lampau, serta mengevaluasi referensi yang digunakan
  3. Memperbanyak aktivitas diskusi dan tugas kolaboratif. Dengan cara ini mahasiswa berlatih mengemukakan buah pikirannya sendiri. Hasil diskusi dibuat dalam bentuk ringkasan dan mahasiswa bisa memberikan komentarnya setelah diskusi selesai.
  4. Meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran (experiential learning) dan meminta mereka untuk bertanya kepada ChatGPT dengan memasukkan pandangan atau data dari kondisi sekarang, pengalaman personal atau konteks geografis tertentu.
  5. Bagi dosen, ChatGPT dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan studi kasus unik bagi masing-masing mahasiswa atau kelompok mahasiswa berdasarkan ketertarikan mereka atau tingkat kemahiran mereka.
  6. Berikan ruang bagi mahasiswa dalam assesment dosen suatu umpan balik mengenai bagaimana mereka dapat meningkatkan diri mereka dan meminta mereka untuk memberikan sintesa pengetahuan dari respons-respons ChatGPT yang pernah mereka hasilkan.

Contoh lainnya adalah Cambridge University dan Warwick University di Inggris [3]. Mereka mengatakan bahwa Cambridge akan mengijinkan mahasiswanya menggunakan ChatGPT selama tidak digunakan untuk menulis tugas-tugas kuliah atau untuk mengerjakan ujian. Sementara pihak Warwick University mengatakan tidak melarang ChatGPT dan menilai bahwa ChatGPT adalah hal yang positif bagi mahasiswa untuk belajar sesuatu darinya.

C. Etika / Panduan Penggunaan ChatGPT dan AI Tools Lainnya: Contoh Kasus Penerbit Jurnal Ilmiah

Penerbit jurnal-jurnal ilmiah internasional seperti Elsevier dan Cambridge University Press beberapa hari lalu juga telah mengeluarkan panduan mengenai etika menggunakan ChatGPT dalam penulisan dan publikasi karya ilmiah para peneliti yang menyerahkan artikelnya ke jurnal mereka.

Elsevier dalam kebijakan etika publikasinya (Publishing Ethics) pada bagian Duties of Authors khususnya pada The Use of AI and AI-assisted Technologies in Scientific Writing, menyebutkan hal-hal berikut [4]:

  • ChatGPT atau AI tools lainnya hanya dapat digunakan untuk meningkatkan keterbacaan dan ketepatan berbahasa saja (readability and language of the work) dalam artikel yang hendak dimasukkan ke jurnal.
  • ChatGPT atau AI tools lainnya tidak boleh digunakan untuk menggantikan peran penulis dalam memberikan pandangan, melakukan analisa atau interpretasi data serta dalam menarik kesimpulan hasil penelitiannya.
  • Penulis artikel wajib melakukan kontrol atas keluaran ChatGPT dan AI tools lainnya dengan cara melakukan review dan editing, karena keluaran tools tersebut bisa saja keliru, tidak lengkap atau mengandung bias.
  • Penulis wajib menyatakan dalam naskah artikelnya bahwa ChatGPT atau AI tools lainnya telah digunakan dalam penulisan artikel jurnal. Hal ini dalam rangka memberikan transparansi dan rasa saling percaya antara pihak-pihak yang terlibat dalam publikasi jurnal maupun pembacanya.
  • Penulis tidak boleh menyatakan ChatGPT atau AI tools lainnya sebagai author atau co-author dan tidak boleh juga mensitasinya sebagai author.

Sedangkan Cambridge University Press pada bagian Panduan Etika Publikasi Riset untuk Jurnal (Research Publishing Ethics Guidelines for Journals) di bagian Authorship and Contributorship khususnya pada AI Contributions to Research Content memiliki sikap yang tidak jauh berbeda dengan Elsevier, dengan mengatakan [5]:

  • ChatGPT atau AI tools harus disebutkan dan dijelaskan perannya dalam penulisan artikel jurnal sebagaimana halnya penyebutan perangkat lunak, tools dan metodologi yang digunakan dalam penelitian.
  • ChatGPT atau AI tools tidak dapat dinyatakan sebagai author karena tidak memiliki akuntabilitas.
  • Penulis harus bertanggung jawab penuh atas penggunaan ChatGPT atau AI tools dalam bentuk penggunaan apa pun.
  • Penggunaan ChatGPT atau AI tools tidak boleh melanggar aturan mengenai plagiarisme dari Cambridge.

D. Webinar Etika Penggunaan ChatGPT di Lingkungan Akademik

Bagaimana dengan respons kalangan dunia akademik di Indonesia mengenai etika / panduan penggunaan ChatGPT? Berkenaan dengan etika penggunaan ChatGPT di lingkungan akademik, Dewan Guru Besar Universitas Indonesia rencananya akan mengadakan webinar pada hari Sabtu, 25 Maret 2023 pukul 09.00 – 12.30 WIB seperti diinfokan dalam flyer di bawah [6].

Bagi para pembaca yang tertarik mengikutinya melalui Zoom atau Youtube, silakan mendaftar pada link yang tertulis dalam flyer webinar di atas.

E. Penutup

Demikianlah tulisan serba singkat mengenai etika (panduan) menggunakan ChatGPT di dunia pendidikan ini. Semoga dapat menambah wawasan para pembaca yang budiman sekalian.

Referensi:
[1] https://el.iti.ac.id/blog/chatgpt-dan-pendidikan-penelitian-tentang-chatgpt-di-jurnal-online/
[2] https://cade.upm.edu.my/upload/dokumen/20230202105701Guide_for_ChatGPT_Usage_in_Teaching_and_Learning.pdf
[3] https://www.msn.com/en-gb/money/other/university-of-cambridge-will-allow-students-to-use-chatgpt/ar-AA187ul8
[4] https://www.elsevier.com/about/policies/publishing-ethics
[5] https://www.cambridge.org/core/services/authors/publishing-ethics/research-publishing-ethics-guidelines-for-journals/authorship-and-contributorship#
[6] Grup WA dosen

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar