Cara Mengolah Limbah atau Sampah Elektronik
27 Nov 2019

Cara Mengolah Limbah (Sampah) Elektronik Ala UNSW

Beritahu teman

>>>
Kita mungkin akan terkejut melihat besarnya limbah (sampah) elektronik di Indonesia tahun 2018 kemarin. Menurut sebuah sumber, angkanya bisa mencapai 49,8 juta ton! Padahal sampah elektronik, seperti handphone, laptop, TV, monitor dan lain-lain itu mengandung zat berbahaya bagi tubuh manusia dan tentu saja lingkungan hidup kita.

Oleh karena itu, perlu adanya teknologi untuk bisa mengolah limbah elektronik ini sehingga derajat bahayanya menjadi berkurang, atau bahkan bisa menghasilkan produk lain yang bermanfaat. Salah satu terobosan signifikan dalam cara mengolah sampah elektronik ini dilakukan oleh University of New South Wales (UNSW) di Sydney, Australia.

Cara Mengolah Limbah Eletronik oleh UNSW

UNSW membangun sebuah microfatory (pabrik mikro), yakni pabrik skala kecil yang bisa memproduksi sesuatu dalam skala kecil juga. Pabrik mikro ini difungsikan untuk mengolah limbah elektronik (electronic waste / e-waste) menjadi produk metal alloys yang bermanfaat bagi komunitas lokal setempat.

Pabrik mikro ini diklaim sebagai microfactory pertama di dunia yang mengolah sampah elektronik. Profesor Veena Sahajwalla, Director of Centre for Sustainable Materials Research and Technology yang mengepalai proyek ini menjelaskan bahwa sampah yang dibuang seseorang bisa menjadi benda berharga orang lain. Dengan e-waste microfactory ini, limbah elektronik bukanlah sebuah problem, melainkan sebuah kesempatan ekonomi yang berharga.

Pabrik mikro di UNSW ini memiliki modul-modul pabrik yang dapat dibuat ulang di mana saja di dunia. Jika kita hanya memiliki lahan seluas 50 meter persegi pun, sebuah pabrik mikro yang mampu mengolah sampah elektronik ini pun sudah dapat dibangun.

Sebagaimana diketahui, proses atau cara mengolah limbah (sampah) elektronik secara umum terdiri dari langkah-langkah berikut:
1. Pengumpulan
2. Pemisahan
3. Pemanasan
4. Pemurnian

Silakan lihat video Microfactory Pertama di Dunia UNSW untuk Mengolah Limbah Elektronik:

Di pabrik mikro ini, setelah dilakukan langkah pengumpulan, limbah elektronik itu selanjutnya dipisahkan. Hal ini tidak terlalu sulit dilakukan karena barang elektronik telah terfragmentasi menjadi komponen-komponen plastik, kaca, papan rangkaian (circuit board) dan sebagainya secara manual. Selanjutnya, robot akan melakukan proses identifikasi tiap komponen dan memisahkannya sesuai jenis masing-masing.

Proses berikutnya adalah memanaskan komponen-komponen tersebut dalam sebuah tungku pemanas kecil. Dengan menerapkan bermacam-macam kontrol temperatur yang sangat tepat, tidak hanya dapat menghasilkan ekstraksi dari sebuah papan rangkaian misalkan, namun juga dapat dihasilkan metal alloy yang diinginkan.

Hal yang menarik adalah, untuk menghasilkan metal alloy tersebut tidak dibutuhkan unsur tertentu seperti yang biasanya dilakukan dalam menambang metal alloy dari tanah. Plastik yang ada di papan rangkaian dimanfaatkan sebagai unsur untuk membantu pembentukan metal alloy tadi.

Jenis plastik yang bermacam-macam pada sampah elektronik tadi dapat dibentuk ulang juga menjadi filamen. Dan filamen tadi dapat dijadikan produk yang berbeda lewat proses printing.

Dengan inovasi teknologi pabrik mikro untuk mengolah limbah elektronik seperti yang dikembangkan UNSW ini, tentunya menjadi salah satu solusi bagi cara pengolahan sampah elektronik di Indonesia. Terlebih lagi Cina telah membatasi bahkan melarang impor sampah elektronik, maka negara-negara dengan limbah elektronik yang besar seperti Indonesia harus mampu mengatasi persoalan lingkungan hidup satu ini.

Source: UNSW Channel on Youtube

Tinggalkan Balasan